Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan, dalam pertemuan tersebut dirinya serta sejumlah analis lain telah me-review Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2016 lalu.
"Ngomongin ekonomi bahas APBN 2016, realisasi sementara. Kita lihat, sebenarnya dari sisi defisit anggarannya, GDP sebenarnya cukup terkendali dari ekspektasi sebelumnya, pemerintah memperkirakan 2,5% - 2,7%. Tapi realisasinya yang kita lihat sementara ini kan menunjukkan defisitnya cukup terjaga 2,46%" kata dia usai pertemuan, Jakarta, Kamis (12/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sisi lain, juga dengan bantuan tax amnesty kita berhasil mengoptimalkan penerimaan pajak. Secara overall kita lihat dari sisi capaian defisit 2,46% dengan capaian 5%-5,1% tahun lalu, capaiannya itu cukup bagus ya," kata dia.
Hal itulah yang menurut Josua menjadi pesan dari Sri Mulyani, supaya pemerintah harus memprioritaskan belanja-belanja yang produktif untuk dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Kalau kita lihat perbandingannya sendiri, capaian atau pola penyerapan (APBN) dari bulan ke bulan khususnya belanja modal, dibandingkan 2015, tahun 2016 jauh lebih bagus. Despite, misalkan di tengah tahun lalu ada pemotongan, tapi kalau dari sisi penyerapan itu lebih bagus. Itu yang menjadi indikasi kuat bahwa pemerintah tetap menjaga momentum pertumbuhan ini memang harus memprioritaskan belanja-belanja yang produktif, yang harus tepat saran. Maka dari itu, kedepannya APBN akan menjadi kunci pertumbuhan tahun ini," paparnya. (dna/dna)











































