Sri Mulyani Paparkan Soal Brexit, Trump, dan Ekonomi RI di DPR

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 18 Jan 2017 12:08 WIB
Foto: Dok. Ditjen Pajak
Jakarta - Dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% atau lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya meskipun ada pemangkasan anggaran.

"Untuk Indonesia pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5%, di mana diasumsikan kuartal IV kita akan tumbuh minimal 4,7%," ungkapnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/1/2017).

Faktor pendorongnya adalah konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh stabil seiring dengan inflasi yang terkendali pada level 3,02%. Kemudian adalah investasi swasta.

"Investasi memang tumbuh lambat karena ada tekanan di perbankan," ujarnya.

Belanja pemerintah menjadi kurang optimal karena adanya pemangkasan dan penundaan anggaran pada pertengahan tahun. Langkah tersebut diambil karena kondisi perencanaan anggaran yang kurang baik.

"Tapi dengan pengurangan belanja, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih bisa lebih besar dari 2015. Ini gambaran pemotongan dilakukan secara efektif, dan tidak berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Menurut Sri Mulyani, pemangkasan anggaran menimbulkan kepastian bagi kalangan swasta untuk terus berinvestasi.

"APBN yang kredibel itu merupakan salah satu aset dan sumber confident untuk menggerakan ekonomi secara berkelanjutan," tegas Sri Mulyani.

Sisi perdagangan ekspor memang tidak sesuai proyeksi, karena masih dalam posisi negatif. "Ekspor masih negatif di kuartal IV. Tadinya kita harapkan sudah mendekati 0. Tapi nampaknya masih ada penundaan, sehingga diharapkan terjadi di 2017," pungkasnya.

Ekonomi Global di 2016

Periode 2016 juga mendapat tantangan dari sisi eksternal. Pertumbuhan ekonomi dunia hanya terealisasi 3,1% atau jauh lebih rendah dari yang diproyeksikan sejak awal tahun. Faktor utamanya adalah lemahnya sisi permintaan.

"Lemahnya sisi permintaan yang kemudian sebabkan harga komoditas belum pulih," ungkapnya.

China masih dalam perlambatan. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut perlu melewati masa untuk menjaga kestabilan pasca tumbuh tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain ada persoalan yang datang dari Eropa, yaitu Brexit.

"Kemudian Brexit, perlu dilihat apakah akan secara drastis ataupun secara gradual," terang Sri Mulyani.

Suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan beberapa kali dalam setahun terakhir. Ini seiring dengan perbaikan ekonomi AS. Ketidakpastian justru muncul pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

"Sering dengan pemulihan ekonomi di AS, The Fed akan menaikan suku bunga di 2017. Ini menimbulkan pengaruh ke investor dalam penempatan uang di dunia," imbuhnya. (mkj/ang)