Kebijakan Trump yang anti mainstream dinilai semakin menambah ketidakpastian ekonomi dunia yang saat ini masih menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.
"Kemarin saya ke Davos, semua orang membicarakan Trump effect. Semua melihat Trump adalah Presiden dari negara terbesar di dunia. Jadi setiap policy nya akan mempengauhi perkembangan negara-negara dunia termasuk Indonesia. Karena Amerika adalah salah satu partner dagang besar Indonesia," katanya dalam CIMB Niaga Economic Forum di Hotel Ritz Carlton, SCBD, Jakarta, Kamis (26/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya banyak disampaikan, kebijakan Trump akan membuat Fed Fund Rate naik sampai tiga kali. Sehingga bisa menyebabkan penguatan dolar. Tentu kita harus melihat ini apa opportunity-nya," tambahnya.
Meski juga akan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan negara besar dunia seperti AS, Indonesia sendiri dipercaya masih bisa tumbuh lebih baik dibanding mayoritas negara-negara di dunia.
"Di lain sisi pertumbuhan kita diperkirakan 5,1-5,3%. Banyak yang bilang itu tidak bagus dan tidak jelek. Tapi kalau dilihat dari semua posisi yang ada, mungkin 5% adalah pertumbuhan yang sudah sangat bagus yang juga kita akan alami beberapa tahun ke depan," pungkasnya. (ang/ang)











































