Follow detikFinance
Selasa 21 Feb 2017, 22:00 WIB

Ini Misi Jokowi Kunjungan Kerja ke Australia Pekan Ini

Hendra Kusuma - detikFinance
Ini Misi Jokowi Kunjungan Kerja ke Australia Pekan Ini Foto: Bagus Prihantoro Nugroho
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berkunjung ke Australia, 25-26 Februari 2017. Kunjungan tersebut merupakan agenda lama yang sebelumnya batal karena aksi demo 4 November 2017.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, mengatakan ada beberapa misi yang akan dibawa Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke Australia.

"Pertama Australia, tadi Menseskab dan Wamenlu sudah sampaikan tentunya agenda utama, di sisi ekonominya ya, adalah perundingan IACEPA, Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement, perjanjian perdagangan dan investasi," kata Lembong di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/2/2017).

Lembong menyebutkan, perundingan sejauh ini berjalan cukup lancar dan tidak ada kendala untuk perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan Australia. Bahkan, ada potensi dituntaskan pada tahun ini, jika berhasil maka akan menjadi perjanjian bilateral pertama bagi Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

"Nah, memang dialog kerja sama ekonomi Indonesia-Australia cukup besar tekanannya dari sisi investasi," jelasnya.

Dia mengaku, telah melaporkan kegiatan investasi yang cukup besar antara Indonesia dengan Australia adalah di sektor pertambangan emas. Di mana telah ada kerja sama (MoU) antara PT Antam (Persero) dengan Newcrest Mining Limited dalam eksplorasi emas di Indonesia.

Lembong menuturkan, Newcrest telah menganggarkan kurang lebih US$ 1 miliar untuk eksplorasi emas selama 5 tahun ke depan.

"Mungkin mulai dulu dengan Newcrest jadi sekali lagi pada MOU beberapa waktu yang lalu Newcrest itu menganggarkan US$ 1 miliar. Untuk 5 sampai 7 tahun ke depan untuk eksplorasi emas di seluruh Indonesia. Melalui kerja sama Newcrest dengan Antam," jelasnya.

Kemudian, kata Lembong, pemerintah juga tengah menjajaki beberapa investasi di sektor strategis lainnya, seperti pariwisata.

"Australia sedang mengalami suatu tourism boom, lagi luar biasa di sana dan kami mengundang beberapa investor. kami tidak butuh modalnya sebetulnya, kita lebih butuh desain dan manajemen dari mereka. modal kita sudah dapat dari negara lain," ungkapnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed