Menurutnya, langkah pemerintah saat ini mengandalkan pembangunan di laut telah sejalan dengan target tersebut. Namun, perlu langkah efisiensi untuk setiap proyek yang dilakukan, agar investor bisa tertarik.
"Bisa saja tercapai. Sangat bisa kalau negeri ini makin efisien. Sekarang ini kan banyak masalah inefisiensi. Kalau kita bisa tackle inefisiensi, kita bisa semakin cepat," katanya saat ditemui di Nusa Dua Bali, Kamis malam (23/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau turis hampir enggak ada masalah. Hampir semua destinasi wisata yang kita buka itu naik. Sekarang kita ingin manfaatin, tahun depan Asian Games dan World Bank-IMF annual meeting. Itu 15 ribu hadir. Saya kira dampaknya besar. Dengan ini, kita bersihkan destinasi-destinasi wisata kita dari sampah plastik," tutur dia.
Baca juga: JK: 10 Tahun ke Depan, 25% PDB RI Bersumber dari Laut
Sedangkan dari Perikanan, pemerintah akan mengoptimalkan sumber daya laut Indonesia. Menurutnya, potensi perikanan Indonesia masih sangat besar.
"Ikan itu saya kira kita baru ambil less than 10% dari total potensi. Sekarang ini masih belum maksimal karena memang kita baru selesaikan masalah illegal fishing," ucapnya.
"Ada 11 zona ikan kita. Kita harus bisa manage itu supaya tak ada over fishing. Dilihat bagaimana perpindahan ikan, kualitas ikan. Kemudian, tangkap enggak bisa dong pakai jaring net sampai 100-200 km. Nanti ikan kecilnya habis juga," tambahnya.
Sementara dari sektor migas, pemerintah akan memaksimalkan potensi laut dalam Indonesia. Ia mengatakan, pemetaan laut Indonesia akan lebih dioptimalkan, supaya potensi minyak atau energi di laut Indonesia bisa lebih diketahui. Tentunya dengan penggunaan teknologi yang efisien.
"Laut dalam kita kan hampir sama sekali belum diolah. Kita lihat Masela, ternyata bisa lebih lebar lagi. Lalu, South East Natuna, ternyata empat kali lebih besar dari Masela," pungkasnya. (hns/hns)











































