RI Sudah 70 Tahun Merdeka, Tapi Pemerintah Tak Punya Data Ayam

RI Sudah 70 Tahun Merdeka, Tapi Pemerintah Tak Punya Data Ayam

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 28 Feb 2017 15:08 WIB
RI Sudah 70 Tahun Merdeka, Tapi Pemerintah Tak Punya Data Ayam
Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Puluhan peternak ayam hari ini mendatangi kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (28/2/2017). Tujuannya menuntut dilakukan perbaikan harga ayam di tingkat kadang.

Harga ayam di tingkat peternak saat ini jatuh hingga Rp 11.000/kg, harga itu jauh di harga pokok produksi (HPP) Rp 17.500/kg. Sementara harga ayam di pasaran sendiri saat ini mencapai Rp 34.000/kg.

Ketua Bidang Hukum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Nano Supriyatna, menyebut fluktuasi harga ayam yang terjadi selama bertahun-tahun ini salah satunya disebabkan ketiadaan data stok produksi serta permintaan ayam di dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah merdeka 70 tahun lebih, tapi masa data ayam, dari DOC (Day Old Chick), kelebihan ayam, kekurangan ayam, tapi pemerintah enggak ada datanya," kata Nano di kantor Kemendag.

Tak adanya data produksi dan permintaan di sektor perunggasan ini, menurut dia, jadi pintu masuk broker memainkan harga ayam. Di sisi lain peternak dirugikan rendahnya harga ayam, konsumen juga harus menanggung mahalnya harga ayam di pasar.

"Data suplainya tidak ada, demand juga tak ada. Pemerintah tanya ke kami yang pelaku usaha, kami juga bingung sendiri. Kalau kami tahunya harga ayam turun sampai separah ini berarti di kandang ini kelebihan ayam," ucap Nano.

Dia berujar, harga ayam sudah semakin diprediksi sejak 4 tahun belakangan ini. Namun, jatuhnya harga paling terasa mulai terjadi sejak 2016 lalu. Harga ayam yang anjlok tersebut, menurutnya, karena adanya kelebihan pasokan dari kandang perusahaan integrator.

"Ayam di kandang integrator ini kan besar, broker kan membeli harga ayam yang lebih rendah. Kalau integrator bisa kasih harga ayam yang lebih rendah, mereka lebih memilih ambil dari kandang integrator," jelas Nano. (idr/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads