Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 13 Mar 2017 16:39 WIB

Startup Ingin Dapat Modal dari Investor? Begini Caranya

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris/detikFinance Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Berstatus sebagai negara berpenduduk terbesar di Asia Tenggara, membuat Indonesia jadi pasar gemuk bagi startup global. Beberapa startup lokal pun tumbuh bak jamur di musim hujan, bahkan kini beberapa di antaranya sudah menjadi perusahaan besar.

Direktur Jakarta Founder Institute (JFI), Andy Zain berujar, startup yang mulai jadi penguasa pasar yakni sektor e-commerce dan transportasi online. Menurutnya, singkatnya pertumbuhan startup ini tak lepas dari aliran dana besar lewat perusahaan-perusahaan modal ventura, baik lokal maupun asing.

Lantas, bagaimana agar para startup ini bisa dilirik para investor perusahaan ventura?

"Meski kecil, bahwa yang penting startup ini harus meaningful (sangat bermanfaat). Cakupannya harus luas, jangan kayak bikin portal buat anak kampus misalnya khusus Kota Depok. Harus yang pasarnya luas dan memberikan manfaat banyak orang, tak masalah kalau pun masih kecil, itu yang dilihat," kata Andy kepada detikFinance di Menara DBS Indonesia, Jakarta, Senin (13/3/2017).

Diungkapkannya, investor ventura umumnya tidak melihat besar kecilnya skala dari startup, namun lebih melihat dari sisi prospek bisnis dan pasar di masa mendatang.

"Contohnya Anda bikin situs pertemukan pasangan muslim, atau portal ketemu pasangan hidup. Atau sesuatu hal lain yang bermanfaat besar," tambah Andy yang juga menjadi pemodal ventura untuk beberapa startup ini.

Menurut dia, sebenarnya di Indonesia banyak sekali pangsa yang belum tersentuh oleh perusahaan startup. Di Indonesia, startup yang pasar sudah jenuh lantaran sudah banyak pemain besar adalah sektor e-commerce.

"Di e-commerce sudah ramai sekali, padahal banyak sekali yang masih kosong di Indonesia, contoh di kedokteran, kesehatan, kuliner, properti, dan situs edukasi. Ini yang masih sangat kosong. Kemudian kalau mau main di e-commerce, garap di logistiknya, cara pembayarannya," jelas Andy.

Pasar dengan sifat ceruk ini pula yang di Indonesia belum banyak digarap para pembuat startup.

"Bagaimana agar tak perlu lagi buka toko fisik. Di Indonesia masih banyak sekali yang bentuknya masih fisik, bagaimana jualan obat itu sudah harus online, toko bangunan masih fisik, beli asuransi juga, padahal bisa online. Intinya di Indonesia masih luas sekali," terang Andy. (idr/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed