Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, mengaku pelabuhan ini akan menjadi jawaban atas persoalan banyak hal di bidang konektivitas yang terjadi di wilayah tengah Indonesia. Contohnya untuk penumpang, pelabuhan ini akan menjawab persoalan menumpuknya angkutan darat yang selama ini digunakan orang-orang untuk bepergian dari Surabaya maupun Bali menuju ke Mataram.
"Harapannya, traffic-traffic yang selama ini menggunakan angkutan darat, dari Surabaya, Bali, di sini akan kita pindahkan dengan roro. Sehingga roro dari Jakarta, Semarang, Surabaya, menuju ke sini menggunakan roro yang kapasitasnya lebih besar dari yang sekarang," katanya saat mengunjungi lokasi pembangunan Pelabuhan Gili Mas, Mataram, Kecamatan Lembar, NTB, Sabtu (1/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini kapasitasnya 1 roro itu cuma 40 truk. Dengan pelabuhan ini, ini akan ngangkut 200 truk dengan 1 roro yang berkapasitas lebih besar. Dengan keadaan itu, maka Bali tertolong tidak ada traffic-traffic, karena Bali itu sehari ada 1.200 truk," sambung Budi.
Tidak hanya itu, pelabuhan ini juga akan berfungsi sebagai pra sarana untuk kapal-kapal pesiar besar berlabuh, yang selama ini tidak bisa dilakukan pelabuhan Lembar. Lombok yang diprediksi akan didarati kapal-kapal generasi ketiga dengan kapasitas besar dan kapal pesiar yang membawa ribuan wisatawan asing seiring dengan dibangunnya kawasan wisata Mandalika diyakini akan menjadi semakin baik dengan hadirnya Pelabuhan Gili Mas.
"Apabila Mandalika ini menjadi suatu yang penting, berarti pasti suplai barang itu harus banyak. Kedua, kalau sekarang 18, mungkin sebagian yang Bali akan ke sini, karena luas daripada Lombok masih luas, variasi banyak, dan tujuan wisatanya banyak. Jadi intinya dengan dibangunnya Gili Mas ini akan tercover masalah cruise, roro dan logistik," tukasnya. (hns/hns)











































