Trump Bingung Perdagangan AS-RI Defisit, Ini Tanggapan JK

Trump Bingung Perdagangan AS-RI Defisit, Ini Tanggapan JK

Muhammad Taufiqqurahman - detikFinance
Selasa, 04 Apr 2017 16:49 WIB
Trump Bingung Perdagangan AS-RI Defisit, Ini Tanggapan JK
Foto: REUTERS/Kevin Lamarque
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan menyelidiki negara-negara mitra dagangnya yang menyebabkan defisit, salah satunya adalah Indonesia. Defisit terbesar perdagangan AS adalah dengan China.

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), menyatakan yang namanya perdagangan antar negara itu bergerak dinamis, bisa surplus dan bisa juga defisit. Semuanya berjalan dengan tidak ada masalah selama kedua negara berlaku adil dan atas kepentingan bersama.

"Pertama soal Amerika, Trump yang mengatakan kita curang karena menyebabkan defisit. Banyak negara yang defisit, tapi yang namanya perdagangan itu fair," kata JK ditemui di kantornya, Senin (4/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hanya bahwa barang Amerika mahal, sehingga kita tidak beli barang dari Amerika, tapi barang kita murah jadi (AS) beli barang kita kan? Itu tidak hanya terjadi di kita, tapi juga di China, Meksiko, Kanada," tambahnya.

Menurut JK, hal itu lumrah terjadi dalam perdagangan antar negara. Ekspor Indonesia ke AS sudah makin beragam, dulu Indonesia pernah ekspor minyak dan gas, sekarang beralih ke garmen, alas kaki, mesin, dan lain-lain.

Maka dari itu, wajar saja jika AS mengalami defisit karena Indonesia tidak banyak mengimpor barang dari AS. Beberapa produk yang diimpor contohnya produk pertanian, seperti kedelai, jagung, dan sebagainya.

"Kalau terjadi begitu Amerika harus introspeksi, kenapa kita kurang mengimpor barang dari Amerika, karena mereka mahal. Dia tidak bisa mengatakan kalau Indonesia curang. Curang kenapa? Kita tidak pernah paksakan untuk beli barang Indonesia, tapi karena barang Indonesia baik dan murah, jadi mereka beli," ujarnya.

"Jadi Amerika harus introspeksi dirinya kenapa barangnya mahal. Karena Amerika sendiri yang menyodorkan perdagangan bebas selama ini, sebagai unsur negara yang kapitalis memang harus perdagangan bebas, sekarang malah menyesalkan. Kan ini fair trade karena itu kan dijamin oleh WTO, dan sebagainya. Tergantung kalau dikatakan curang, bagian mana yang curang," jelasnya. (ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads