Buka Business Summit
SBY: Saya Salesman President
Kamis, 21 Apr 2005 17:39 WIB
Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku siap jadi salesman president yang akan memaparkan pembangunan ekonomi dan prospek Indonesia kepada pelaku usaha di konferensi Asia-Afrika (KAA)."Izinkanlah saya bicara beberapa kata tentang pembangunan ekonomi dan prospek Indonesia. Dan dalam business summit ini saya akan menjadi salesman president," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka acara Asian-African Business Summit 2005 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (21/4/2005).Dijelaskan Presiden SBY, Indonesia saat ini telah pulih dari krisis ekonomi yang dialaminya sejak 1997. Indonesia saat ini telah melakukan konsolidasi demokratik dan reformasi. "Tahun lalu kita melakukan pemilu bebas dan adil di dunia dengan jumlah pemilih terbesar setelah India," ujarnya.Selain itu, lanjut Presiden, pertumbuhan ekonomi cenderung mengalami kenaikan dimana pada tahun 2004 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1 persen dan tahun ini menjadi 5,5 persen. "Pemerintahan saya berharap dapat capai pertumbuhan 6,6 persen per tahun," ungkap SBY.Ditambahkannya, daya beli masyarakat telah kembali ke masa pra-krisis yakni ke level US$ 1.030 per kapita. "Dengan populasi 220 juta maka pasar Indonesia terbukti potensial. Investasi juga naik 11 persen, ini pertama kali sejak krisis dengan adanya modal masuk," tegasnya.Pemerintah juga berusaha mengurangi tingkat pengangguran dari 9,5 menjadi 5,1 persen dan mengurangi tingkat kemiskinan sebesar 50 persen menjadi 8,1 persen."Karena anda semua pelaku bisnis, maka pertanyaan anda adalah apakah kerjasama ini akan berjalan? jawaban saya iya ini akan berjalan karena semua elemen akan mendukungnya. Saya maksud bukan hanya pemerintah tapi juga seluruh masyarakat termasuk akademisi, media, LSM, masyarakat umum dan pebisnis," kata Presiden.Dijelaskan, peran pemerintah adalah bagaiman dapat mempertemuakan dan menfasilitasi antara transnasional dan dengan lokal suplier.Diharapkan transnasional dapat menginformasikan ke pemerintah kebijakan seperti apa yang dapat mendukung dan menguatkan hubungan. Pemerintah dan transnasional bekerjasama dalam kerangka regional dan interkontinental yang diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi bagi suplier kecil.Bentuk kerjasama ini diperlukan agar dapat mengatasi berbagai masalah seperti kecilnya pasar domestik, tinginya biaya impor dan kurangnya infrastruktur. "Dan menurut saya strategi kerjasama baru antara Asia-Afrika dapat bernilai bagi perusahaan dan organisasi bisnis," ungkapnya.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
