Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 28 Apr 2017 20:42 WIB

Salah Data, Pangkal Gagalnya Program Swasembada Daging Sejak 2009

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris - detikFinance Foto: Muhammad Idris - detikFinance
Jakarta - Sejak tahun 2009, kebijakan swasembada daging sapi selalu gagal mencapai tujuannya. Alih-alih meningkatkan kesejahteraan peternak, kebijakan ini malah menyebabkan harga daging sapi terus melambung dari Rp 65.000/kg di 2009 hingga mencapai Rp 150.000/kg di 2015.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, mengatakan biang keladi masalah tersebut adalah kesalahan data acuan yang digunakan pemerintah kala itu.

Penyelesaian masalah daging sapi pada periode itu, ibarat dokter yang salah memberi obat karena diagnosa penyakit yang keliru. Data pemerintah soal populasi dan kebutuhan yang simpang siur, membuat kebijakan swasembada yang diambil selalu meleset.

"Masalah pertama ini kan soal data yang simpang siur. Berapa populasinya, berapa kebutuhan daging sapi di Indonesia per kapita. Kalau data salah implikasinya salah kebijakan," kata Syarkawi dalam Diskusi Kesejaheteraan Peternak Lokal di Pomelotel, Jakarta, Jumat (28/4/2017).

Hal ini pula yang membuat kebijakan swasembada selalu saja meleset. Begitupun langkah membatasi impor, bukannya malah menyelesaikan masalah, malah membuat lonjakan harga daging sapi di pasaran.

"Lembaga A sebut kebutuhan per kapita 2,2 kg per tahun per orang, lembaga B sebutnya 2,5 kg per orang per tahun. Belum kemudian dikalikan dengan jumlah penduduk yang sudah bertambah banyak," ucap Syarkawi.

Dia mencontohkan, tahun 2015 lalu pemerintah berasumsi produksi daging sapi lokal mencukupi, sehingga perlu diambil langkah membatasi kuota impor sapi bakalan. Namun yang terjadi, kebijakan tersebut malah membuat kenaikan harga daging sapi yang saat itu menembus Rp 150.000/kg di Jabodetabek.

"Feedloter yang khawatir tidak mendapatkan kuota sapi bakalan di triwulan ketiga dan keempat, akhirnya mengurangi jatah impornya di triwulan pertama dan kedua atau disimpan. Akhirnya sapi jadi mahal," pungkas Syarkawi.

Pengalaman yang sama juga terjadi pada tahun 2009, dimana pemerintah mengurangi impor daging sapi beku dan sapi bakalan untuk mencapai target swasembada selama 5 tahun.

Akibat kurangnya pasokan sapi setelah impor dibatasi. Di sisi lain, tidak ada peningkatan populasi sapi yang siginifikan selama masa pengurangan impor. Kondisi ini malah membuat banyak sapi betina indukan dipotong lantaran tingginya permintaan.

"Setiap tahun impornya dikurangi 10%, agar di 2014 impornya tinggal kurang dari 10% alias swasembada. Persoalannya pemerintah tetap ingin capai swasembada dengan kurangi impor daging beku dan bakalan, tidak disertai dengan produktifitas sapi lokal," ujar Syarkawi.

Lanjut dia, harga daging sapi pun merangkak naik. Sebelum tahun 2009, harga daging sapi masih dibanderol Rp 65.000/kg, namun melonjak tinggi sampai Rp 120.000/kg pada tahun 2014, dan mencapai puncaknya tahun 2015 yang harganya mencapai Rp 150.000/kg, ketika pemerintah memangkas impor bakalan untuk jatah feedloter. (idr/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com