Selain ditopang konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2017 juga ditopang oleh PMTB sebesar 4,81%, ekspor 8,04%, konsumsi pemerintah 2,71%, konsumsi LNPRT 8,02%, dan impor 5,02%.
Meski komponen pengeluaran pada pertumbuhan ekonomi tumbuh, namun jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya menjadi melambat. Sebab, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2016 sebesar 4,97%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti yang dikatakan Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih. Dia mengatakan, masih banyaknya masyarakat yang enggan membelanjakan penghasilannya karena adanya beberapa momen yang dianggap membutuhkan keuangan lebih besar.
Di antaranya adalah lebaran Idul Fitri yang jatuh di Juni 2017. Biasanya orang Indonesia butuh banyak dana untuk belanja pakaian, makanan hingga tikaet transportasi untuk mudik.
"Konsumen itu menahan diri, karena kuartal 2 karena puasa dan itu yang menunda. Ada spending lebih banyak," kata Lana ketika dihubungi detikFinance, Jakarta, Jumat (5/5/2017).
Baca juga: Buruh Apa yang Upahnya Paling Tinggi di RI? |
Selain itu, kata Lana, konsumsi rumah tangga kuartal I-2017 yang tumbuh tidak setinggi kuartal I-2016 juga bisa dilihat dari pertumbuhan penjualan ritel yang tidak mengalami banyak perubahan.
"Tapi jika dilihat kelas menengah ke atas itu relatif flat, tapi penjualan Ramayana turun, tapi kalau dilihat ada yang turun seperti Ramayana, jadi komposisi rumah tangga itu bergerak di 4,9%," tambahnya.
Dengan data tersebut, Lana menuturkan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2017 yang tidak tinggi dikarenakan banyaknya masyarakat menunda belanja.
"Jadi saya kira masyarakat menahan belanja itu karena memang ingin bulan puasa dan lebaran, serta tahun ajaran baru, jadi orang banyak yang menahan belanja," tukasnya.
Dorongan pendapatan kelas menengah dan bawah mengalami perlambatan, seperti UMP tumbuh hanya 9,15% dari tahun sebelumnya yang tumbuh 12,43%. Begitu juga panen raya untuk harga gabah turun, begitu juga upah riil buruh tani terkontraksi 0,53%, nilai tukar petani juga sama terkontraksi 1,60%.
Baca juga: Orang RI Makin Irit Belanja, Ini Datanya |
Dari posisi pinjaman konsumsi, untuk kredit konsumsi dari perbankan juga melambat di kuartal I-2017 menjadi 8,75%. Begitu juga dengan pembiayaan multiguna yang terkontraksi negatif 9,07%. Selanjutnya, di sektor posisi tabungan untuk tabungan rumah tangga mengalami penguatan dari 4,27% di kuartal I-2016 menjadi 9,14% di kuartal I-2017.
Untuk konsumsi barang mewah kelas atas juga alami perlambatan. Dilihat dari pembelian barang mewah yang terkontraksi 21,39% dari yang sebelumnya berada di level 8,80%. Begitu juga dengan pembelian mobil dengan CC di atas 1.500 mengalami perlambatan 3,77% dari kuartal 1 yang tumbuh 14,76%. (mkj/mkj)











































