Direktur Ritel dan Operasi Ciputra Group, Sugwantono Tanto, mengatakan untuk bisa menyiasati hal itu maka industri perbelanjaan modern seperti mal perlu melakukan penyesuaian.
"Dengan adanya e-commerce ini pusat belanja harus berubah. Orang spend uangnya itu akan berubah. Yang dulu spendnya di sini, sekarang spendnya di sana. Tapi ada juga yang spend di sini-sananya jadi nambah, kan normal sekali kalau di satu shoping center dari dulu penilaiannya berubah. Kalau dulu banyak apa sekarang banyaknya apa," ungkap Sugwanto di Hotel Sheraton Grand, Jakarta, Senin (8/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu contohnya adalah dengan memperbanyak ruang atau space yang dapat menarik minat masyarakat untuk hadir. Seperti restoran atau tempat hiburan.
"F&B (Food and Beverage) kalau kita bicara 20-25 tahun yang lalu, F&B itu paling 5% dari pada total luas shoping center, sekarang sudah 15%. Kalau kita lihat ke Jepang, Singapura mungkin sudah 40-60%. Jadi saya rasa pergeseran ini akan terjadi," katanya.
"Kita sebenarnya jualan space di mal dimana sebetulnya kita jual space. Traffic orang yang lewat. Makin tinggi trafficnya, makin tinggi harganya. Terlepas dari tujuannya belanja atau enggak. Kalau orang datang belanja itu akan terjaring dengan sendirinya. Asal kita bisa meletakkan tenant-tenant, toko atau restoran, itu sesuai di tempat dengan orang yang datang. Transaksi itu akan datang dengan sendirinya," sambungnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan, mengatakan, jumlah pengunjung yang datang ke mal masih mengalami peningkatan walau tak signifikan.
"5-10% ada peningkatan untuk tahun 2016 lalu, tergantung mal nya juga. Dan itu masih tetap meningkat selama populasi meningkat," ujarnya. (dna/dna)











































