Direktur SDM dan Pengembangan Sistem Wika, Novel Arsyad, mengatakan saat ini pihaknya tinggal mengerjakan ramp (jalan turunan) serta sarana prasarana seperti parapet (pembatas) dan lighting (lampu).
"17 Agustus dioperasikan, bisa jalan sempurna dan ini akan jadi ikon kedua setelah Jembatan Semanggi sendiri. Semua jembatan sudah tersambung, yang tersisa tinggal (penyelesaian) ramp, kemudian lighting, itu bisa selesai 2 bulan ke depan," jelas Novel ditemui di Gedung MM UGM, Jakarta, Rabu (10/5/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan, nantinya Simpang Susun Semanggi ini akan jadi tempat 'fotogenic' baru di Jakarta. Setiap malam, lampu-lampu warna-warni dan terlihat kerlap-kerlip saat malam hari.
"Kita pasang lighting, 2 bulan bisa selesai. Lampunya ini nanti warna-warni, sehingga bisa jadi ikon baru di Jakarta. Lampu-lampu ini akan tertata dengan bagus," tutur Novel.
Menurutnya, secara keseluruhan, progres konstruksi jalan layang melingkar terpanjang di Indonesia ini sudah mencapai 90%. Proyek ini menghabiskan anggaran Rp 345 miliar.
Baca juga: Simpang Susun Semanggi Dibangun Tanpa Bebani Uang Rakyat DKI
Namun, dana tersebut tak memakai APBD, melainkan dari dana kompensasi atas kelebihan koefisien luas bangunan (KLB). Berdasarkan catatan Pemprov DKI Jakarta, proyek infrastruktur ini dibiayai dari kompensasi atas KLB PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.
Pengerjaan konstruksinya pun terbilang langka, yakni menggunakan teknik box girder dengan metode banana effect, atau efek beton precast melingkar yang memiliki presisi sangat tinggi. Proyek ini diharapkan bisa mengurai kemacetan di Jalan Sudirman dan Gatot Subroto.
Baca juga: Beroperasi 17 Agustus, Simpang Susun Semanggi Jadi Ikon Baru DKI (idr/hns)











































