Follow detikFinance
Selasa 16 May 2017, 11:23 WIB

Siap-siap, Orang Kalimantan Bisa Rasakan Pembangunan Seperti Jawa

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Siap-siap, Orang Kalimantan Bisa Rasakan Pembangunan Seperti Jawa Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Memiliki bentang luas daratan mencapai 74,33 juta hektar atau hampir 6 kali luas Pulau Jawa, Pulau Kalimantan menjadi salah satu pulau besar Indonesia yang belum maksimal merasakan 'kue pembangunan'.

Hal tersebut terlihat dari masih minimnya ketersediaan infrastruktur yang ada di Pulau Kalimantan bila dibandingkan dengan Pulau Jawa.

Padahal, pulau ini menyumbang pemasukan kepada negara yang tak sedikit terutama dari penjualan ekspor hasil tambang. Bahkan, Kalimantan menjadi penyumbang perekonomian terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera.

Melihat fakta tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggenjot pembangunan agar 18,59 juta penduduk Indonesia di Pulau Kalimantan bisa merasakan pertumbuhan ekonomi yang setara dengan 141 juta penduduk di Pulau Jawa.

Dalam proyeksi pertumbuhan perekonomiannya di tahun 2018 mendatang, beberapa proyek infrastruktur diharapkan mampu terealisasi untuk mendukung kegiatan ekonomi yang ada. Mulai dari pembangunan jalan di perbatasan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) hingga beberapa Kawasan Industri.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang rencana pengembangan wilayah Kalimantan, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Selasa (16/5/2017), upaya pemerataan ekonomi salah satunya bakal dicapai dengan menjamin konektivitas yang lancar yang dikombinasikan dengan penyediaan Kawasan Industri (KI) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam hal konektivitas, salah satu proyek infrastruktur yang terus digenjot adalah pembangunan jalan paralel daerah perbatasan di Kalimantan Barat (Kalbar).

Proyek pembangunan jalan paralel yang digagas dan dibangun sejak 2014 tersebut, melingkupi pekerjaan jalan paralel perbatasan Kalbar sepanjang 856 kilometer (km) yang terbagi dalam 12 koridor ruas.

Koridor-koridor tersebut yaitu Temajuk-Aruk (90 km), Aruk-Seluas (78 km), Seluas-Entikong (84 km), Entikong-Rasau (99 km), Rasau-Sepulau-Sintang (99 km), Sintang-Nanga Badau (43 km). Kemudian Nanga Badau-Lanjak (46 km), Lanjak–Mataso (26 kilometer), Mataso-Tanjung Kerja (56 km), Tanjung Kerja-Putussibau (37,84 km), Putussibau-Nanga Era (37 km), Nanga Era-Batas Kalimantan Timur (158 km).

Tujuan pembangunan jalan paralel perbatasan di Pulau Kalimantan adalah untuk menghubungkan wilayah di sisi Timur, Tengah dan Barat yang selama ini terputus-putus. Harapannya, arus pergerakan barang dan jasa bisa dilakukan melalui jalur darat yang biayanya lebih murah ketimbang melalui udara atau sungai seperti yang terjadi selama ini.

Jalan-jalan yang dibangun ini terhubung dengan berbagai Kawasan Industri (KI) Landak/Ketapang dan juga dibarengi dengan pembangunan jembatan Landak II, dan peningkatan struktur jalan ruas Tumbang Talaken-Tumbang Jutih.

Dibangunnya KI, akan memberikan multiplier effect kepada lingkungan sekitarnya. Adanya pabrik-pabrik yang akan berdiri, misalnya Semen akan membuat masyarakat tidak lagi harus ke Pulau Jawa untuk mendapatkan bahan baku tersebut, karena nantinya akan ada pabrik Semen dari Ketapang.

Sehingga manfaatnya bisa mempermudah pembangunan pada infrastruktur, perumahan rakyat dan lain sebagainya.

Selanjutnya adalah pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) MBTK di Kalimantan Timur. Kawasan KEK MBTK itu sendiri ditunjang letaknya di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, yang merupakan posisi strategis karena merupakan perlintasan yang menghubungkan Laut Sulawesi melintasi Selat Makasar, Laut Flores, dan Selat Lombok ke Samudera Hindia, dan sebaliknya.

Kawasan ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai jalur alternatif pelayaran kapal, baik pada lingkup domestik maupun internasional.

Dalam mendukung KEK MBTK, pembangunan Pelabuhan CPO Maloy juga tengah digalalkan, kemudian peningkatan jalan nasiona Simpang Perdau-Batu Ampar, peningkatan jalan nasional Simpang Perdau–Maloy, dan pembanguan jalan akses ke KEK Maloy.

Menuju ke arah Selatan, pemerintah tengah merencanakan pembangunan jalur kereta api Balikpapan-Samarinda, yang saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan. Kini, semua jalur dari berbagai wilayah Kalimantan berhasil melewati feasibility study (FS) atau uji kelayakan.

Dengan adanya jalur kereta api tadi, nantinya waktu pengiriman barang diharapkan mampu ditempuh lebih singkat, termasuk bongkar muat. Moda Kereta Api memang menjadi salah satu alternatif transportasi untuk mobilitas orang dan barang, apalagi jika bisa terintegrasi dengan angkutan sungai yang menjadi angkutan dasar di Kalimantan.

Terutama dengan dibangunnya KI Jorong dan KI Batulicin di Kalimantan Selatan. Dua kawasan industri ini menjadi 1 dari 14 KI yang diprioritaskan Jokowi untuk dibangun di luar Jawa.

Jokowi meminta pembangunan Kawasan Industri Jorong dan Batulicin serta infrastruktur-infrastruktur penunjangnya dikebut agar industri pengolahan bisa berdiri di Kalsel untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Kalimantan Selatan. (dna/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed