Follow detikFinance
Rabu 17 May 2017, 16:28 WIB

Ajak Makan Ikan, Susi Beri Bantuan Benih Lele ke Pesantren

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Ajak Makan Ikan, Susi Beri Bantuan Benih Lele ke Pesantren Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) mencatat tingkat konsumsi ikan bagi para santri di Indonesia masih cukup rendah. Tingkat konsumsi makan ikan para santri sendiri rata-rata sekitar 9,8 Kg/kapita/tahun.

Guna meningkatkan gizi protein para santri itu, KKP melakukan program budidaya ikan lele bioflok di pondok pesantren binaan. Bioflok adalah kegiatan usaha pembudidayaan ikan dengan menggunakan metode pemanfaatan gumpalan-gumpalan kecil yang tersusun dari sekumpulan mirkoorganisme hidup yang ada di air.

Nantinya, mikroorganisme seperti bakteri baik yang hidup yang ada di air itu yang akan menjadi makanan dari benih-benih lele, dan membuat jumlah produksi ikan menjadi lebih banyak dan efisien.

Baca juga:

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengatakan pemerintah bakal memberikan bantuan sarana dan prasarana kepada sejumlah koperasi pondok pensantren untuk bisa ikut membudidayakan lele bioflok.

Dengan begitu, para santri bisa mengkonsumsi ikan lebih banyak.

"Kita mintakan dengan PBNU, Muhammadiyah untuk sinergi dengan lembaga keagamaan untuk bersama mengawal pondoknya masing-masing. Jadi ada sebanyak 103 paket bantuan untuk 73 pondok pesantren, 12 kelompok masyarakat, dan 2 lembaga pendidikan di 15 provinsi akan mulai menerima program bantuan ini mulai akhir bulan ini," ungkap Slamet di kantornya, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Slamet mengatakan, dengan budidaya lele bioflok tersebut, diharapkan tingkat konsumsi ikan para santri dapat meningkat hingga lebih dari 30%. Dari 9,8 Kg/kapita/tahun, menjadi 15Kg/kapita/tahun.


Sementara, untuk dana yang dikeluarkan dari KKP dalam program budidaya lele bioflok ini mencapai Rp 14,4 miliar dengan sasaran nilai panen mencapai Rp 21,78 miliar atau setara 1.452 ton.

Untuk nilai setiap paketnya sendiri memakan dana sebesar Rp 200 juta.

"Jadi bantuan ini dalam bentuk sarana prasarana. Wadahnya, bibitnya, pakannya, probiotiknya. Ini bantuan dalam bentuk sarana produksi, tidak ada bantuan uang dan nanti pembimbingan teknis, sampai operasional, panen, itu banyak lita berikan. Kita kawal terus, jadi orang juga bisa belajar di situ," kata Rahman.

Dari total 103 paket bantuan, sebanyak 72 paket disalurkan dari pusat sementara 31 sisanya dari Unit Pelayanan Terpadu (UPT). Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan perekonomian pesantren.

Sebanyak 73 pesantren yang memperoleh bantuan tersebut tersebar di provinsi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Papua (Kab Jayapura, Sarmi, Wamena), dan Papua Barat. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed