Jurus Jokowi Agar Lulusan SMK Tak Banyak Jadi Pengangguran

Jurus Jokowi Agar Lulusan SMK Tak Banyak Jadi Pengangguran

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 22 Mei 2017 17:28 WIB
Jurus Jokowi Agar Lulusan SMK Tak Banyak Jadi Pengangguran
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Jumlah angkatan kerja di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 131,55 juta. Dari jumlah tersebut, 124,54 juta orang yang bekerja, dan sisanya 7,01 juta orang dipastikan pengangguran.

Jumlah pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menduduki peringkat teratas sebesar 9,27%, sedangkan sisanya disusul oleh pengangguran lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,03%. Sedangkan, dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 5,36%, Diploma III (D3) sebesar 6,35%, dan universitas 4,98%.

Untuk menekan jumlah pengangguran dari lulusan SMK, pemerintah akan meningkatkan kompetensi guru yang mampu menyampaikan teori sekaligus praktik kepada peserta didiknya. Selain itu, fasilitias pendukung untuk praktik siswa-siswi SMK juga perlu ditingkatkan, sehingga kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan industri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pendidikan vokasi yang kita ingin raih itu lulusan dari vokasi ini match dengan kebutuhan dunia usaha dan indsutri, jadi itu yang akan kita ke depan," ujar Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Subandi di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Senin (22/5/2017).

Selain ada beberapa guru yang tidak memiliki kompetensi sesuai mata pelajaran yang diajar, masih kurangnya fasilitas pendukung praktik siswa-siswi SMK seperti bengkel hingga workshop juga menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SMK.

Untuk meningkatkan fasilitas pendukung tersebut, swasta diminta untuk turun langsung memberikan bantuan sesuai dengan sektor usahanya.

"Misalnya Astra di bidang otomotif membantu SMK, sehingga lulusannya sesuai dengan apa yang dikerjakan di panriknya Astra," ujar Subandi.

Dengan demikian, regenerasi pegawai di sebuah perusahaan atau pabrik pun dapat mudah dilakukan tanpa harus melakukan pencarian besar-besaran.

"Tapi sebetulnya perusahaan-perusahaan yang maju itu dengan dia ikut kurikulumnya, ikut bersama-sama untuk penyediaan alat bantu, alat peraga, kemudian workshop dia enggak perlu recruitment besar," tutup Subandi. (mkj/mkj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads