Susi: Berantas Maling Ikan Harus Berani dan Galak

Laporan dari New York

Susi: Berantas Maling Ikan Harus Berani dan Galak

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 06 Jun 2017 11:11 WIB
Susi: Berantas Maling Ikan Harus Berani dan Galak
Foto: Wahyu Daniel
New York - Sudah kurang lebih dua tahun, Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Kiprahnya dikenal hingga internasional. Wanita ini tidak segan menenggelamkan kapal para pencuri ikan, pelaku Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.

Susi mengatakan, pemberantasan maling ikan pelaku IUU Fishing harus tegas dan berani.

"Sudah galak begini saja malingnya masih banyak, apalagi kalau saya halus-halus," tegas Susi di sela acara konferensi kelautan yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UN Ocean Conference di New York, Amerika Serikat, Senin waktu setempat (5/6/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam acara tersebut, Susi hadir melakukan sejumlah pertemuan bilateral dan juga menjadi pembicara pada sejumlah event di acara itu.

Susi ingin negara-negara anggota PBB mempunyai visi yang sama untuk pemberantasan maling ikan. Tujuannya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya laut. Karena sebelumnya banyak pelaku pencurian ikan di dalam negeri yang mengeruk ikan di laut Indonesia sampai nyaris habis. Kondisi ini merugikan nelayan kecil yang kesulitan mencari ikan, sementara pemerintah tidak mendapatkan pemasukan apa-apa.

"Banyak pelaku usaha dan industri yang hanya memikirkan mengambil ikan sebanyak-banyaknya. Tapi soal keberlanjutan atau sustainability tidak dipikirkan. Kalau ikan habis, kan produktivitas mereka bisa terganggu," tegas Susi.

Pada konferensi yang diadakan 5-9 Juni 2017 ini, Susi berharap ada kesepakatan kuat dari negara-negara yang ambil bagian. Susi mengatakan, nada suara peserta semua mendukung kelestarian laut.

"Ada wakil dari negara Malau yang mengatakan untuk menyelamatkan laut kita harus berani dan tegas. Ini sudah saya lakukan sejak menjabat," ujar Susi.

"PBB mulai untuk pertama kalinya bicara soal laut, selama ini biasanya hutan dan darat. PBB sepertinya mulai menyadari bahwa 70% dari dunia ini asalah laut. Dan kita yahu bila ada laut yang rusak, maka akan menular merusak laut lainnya," papar Susi.

Dia menegaskan, pemberantasan maling ikan sangat menguntungkan suatu negara. Tangkapan nelayan makin banyak, ekonomi dan industri tumbuh, kemudian pendapatan pemerintah lewat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) akan naik.

"PNBP Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah naik tiga kali lipat, meski masih kecil nominalnya, konsumsi ikan masyarakat juga naik," jelas Susi.

Lantas apa tantangan yang masih anda hadapi dalam melestarikan laut Indonesia?

Susi mengatakan, banyak pelaku usaha yang kehilangan bisnisnya karena pemberantasan dan penenggalamkan kapal maling ikan. Para pelaku usaha akan mencari sejumlah cara supaya bisnisnya jalan lagi.

"Nilai sumber daya kita itu miliaran dolar. Mereka yang bisnisnya hilang karena pemberantasan IUU Fishing pasti akan mencari jalan. Bahkan investor asing mulai mencari kapal yang dimiliki orang Indonesia. Saya akan terus tegas," ucap Susi. (dnl/mca)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads