Follow detikFinance
Senin 19 Jun 2017, 20:21 WIB

Beras RI Mahal dari Negara Tetangga, Bulog Jangan Beli Lewat Tengkulak

Muhammad Idris - detikFinance
Beras RI Mahal dari Negara Tetangga, Bulog Jangan Beli Lewat Tengkulak Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Salah satu penyebab mahalnya beras di Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga sesama produsen gabah, yakni panjangnya rantai distribusi. Selain itu, kurang efisiennya proses produksi di petani juga turut berkontribusi.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta, mengatakan perlu ada perbahan radikal dalam proses penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog. Menurutnya, masih banyak pembelian oleh Bulog dilakukan lewat tengkulak, bukan ke petani langsung.

"Dalam kenyataannya belum masih (serap beras dari petani langsung). Petani dengan kepemilkan lahan rata-rata hanya 0,2 hektar menjual lewat tengkulak, baru kemudian ke Bulog," kata Arif dalam diskusi 'Pangan dan Agraria di Era Jokowi' di Resto Komando, Jakarta, Senin (19/6/2017).

Penyerapan lewat tengkulak oleh, jelas dia, bisa saja dilakukan asalkan dengan skema kerja sama Bulog, yakni memanfaatkan tengkulak yang memang diakui lebih gesit di lapangan dalam membeli beras petani. Namun di harga tertentu yang diatur BUMN logistik pangan tersebut.

"Ya kalau kemudian ada petenapan harga beli di petani, apakah mau lewat Bulog atau tengkulak, asal harganya sama dengan yang dibeli oleh Bulog langsung. Jadi harganya sama," terang Arif.

Menurutnya, sulit menghapus dalam waktu singkat hubungan 'saling menguntungkan' antara tengkulak dengan petani. Sehingga petani yang rata-rata memiliki lahan sempit dengan produksi sedikit ini, lebih mengandalkan uluran tangan dari tengkulak.

"Tengkulak ini kan tempat bergantung petani. Dia bisa pinjam uang untuk modal tanam, untuk sekolah anak, dan sebagainya. Ketergantungan yang besar ini yang kadang menciptakan ijon, padinya sudah dibeli dulu oleh tengkulak. Ini kan ada hubungan sosial di dalamnya," ujar Arif.

Lanjut dia, sistem panjangnya mata rantai ini sudah berlangsung puluhan tahun. Setelah tengkulak pun, saluran distribusi padi dari petani sampai menjadi beras di tangan konsumen sudah cukup panjang.

"Padi dipanen mulai dari tengkulak, kemudian ke penggilingan kecil, lalu ke penggilingan besar, baru ke grosir dan masuk ke warung-warung, dan baru ke konsumen. Harapannya Bulog beli langsung, dan disalurkan langsung, bukan lewat tangan kedua," tandas Arif.

Data Badan Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) merilis harga beras di Indonesia dengan harga beras rata-rata internasional pada tahun 2016 lalu, harga beras dalam negeri berada di level US$ 1 /kg, kemudian harga beras internasional hanya sekitar US$ 0,4 /kg.

Sebagai pembanding, harga beras di sejumlah ngara ASEAN penghasil rata-rata per kg di Kamboja yakni US$ 0,42/kg. Harga beras dari negara lainnya Thailand yakni US$ 0,33/kg, dan kemudian Vietnam US$ 0,31/kg. Harga beras di Myanmar bahkan mencapai US$ 0,28/kg.

Beberapa negara yang selama ini jadi eksportir beras di dunia seperti India juga memiliki harga beras yang lebih murah yakni US$ 0,48/kg, Bangladesh US$ 0,46/kg, Pakistan US$ 0,42/kg, dan Sri Lanka US$ 0,50/kg.

Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai negara penghasil beras terbesar ketiga di dunia dengan produksi gabah sebesar 70 juta ton, dengan konversi menjadi beras sekitar 39 juta ton beras, dengan kebutuhan rata-rata beras per bulan 2,67 juta ton. (idr/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed