Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 05 Jul 2017 12:56 WIB

Banyak Anak Muda Buka Kedai Kopi, Berapa Untungnya?

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta - Di Indonesia, minum kopi saat ini bisa dibilang tak lagi disebut sebagai kebiasaan penghilang kantuk, tapi sudah berubah jadi gaya hidup. Lantaran sangat prospektif, bisnis kafe yang menyajikan khusus kopi menjamur di beberapa kota besar.

Owner Kiwari Coffee Bandung, Irfan Rahadian Sudiyana, mengatakan margin keuntungan yang bisa didapat penjaja kopi terbilang cukup besar. Apalagi jika pengusaha kedai kopi bisa mendapatkan bahan baku biji kopi dengan harga murah, seperti dari petani langsung.

"Harga biji kopi Arabica kalau beli langsung petani di Jawa Barat saja saat ini pasarannya Rp 80.000/kg. Itu harga untuk green bean (biji masih hijau), kamudian kalau sudah di-roasted (panggang) harga biji kopi untuk jadi bubuk kopi bisa Rp 250.000-300.000," jelas Irfan saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (5/7/2017).

Keuntungan dari penjualan kopi seduh bisa disebut cukup tinggi. Dia mencontohkan, dirinya menjual secangkir kopi Arabica di kafe miliknya di Cimenyan, Bandung, seharga Rp 15.000 per cangkir. Dari satu kilogram bubuk kopi tersebut bisa dibuat hingga 50 cangkir lebih.

"Di Kiwari sendiri menjual kopi secangkir Rp 15.000. Setiap cangkir itu rata-rata 15 gram, sudah cukup banyak cangkir yang bisa diseduh dari 1 kg biji yang sudah di-roasted. Jadi memang sebenarnya keuntungan tertinggi dari kopi ini ada di hilirnya, marginnya cukup besar," ujar Irfan.
Jebolan S2 Jurusan Suistinable International Agriculture (SIA) Gottingen University, Jerman, ini mengaku dalam sehari dirinya bisa mengantongi omzet Rp 2 juta.

"Saya lupa berapa cangkir yang terjual dalam sehari, tapi kalau omzet rata-rata sehari Rp 2 juta. Kalau saya kebetulan dapat pasokan kopi dari petani langsung, dan memang saya juga menanam sendiri untuk jenis Manglayang Cofffe dan Kopi Luwak Manglayang," tutur Irfan.

Namun demikian, membuka kafe kopi susah-susah gampang. Tanpa konsep yang baik dan bisa jadi pembeda, ketimbang merintis usaha kedai kopi di kota-kota yang sudah banyak pesaing, lebih baik baik menyasar daerah yang belum kompetisinya belum terlalu sengit.

"Contohnya di Bandung itu sudah sangat banyak kafe kopi. Harus punya konsep pembeda, kalau tidak punya konsep yang membedakan dengan kafe yang lain sulit bertahan. Beberapa teman saya yang membuka kafe kopi di Bandung malah kolaps karena sewa tempat mahal, dan investasi alat juga besar," pungkas Irfan.
(idr/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed