Harga Minyak Tinggi
Asia Pasifik Tetap Tumbuh Pesat
Jumat, 06 Mei 2005 17:35 WIB
Jakarta - Negara berkembang di Asia Pasifik diprediksi akan tetap mencatat pertumbuhan yang pesat pada tahun 2005 ini, ditengah ancaman tingginya harga minyak dunia. Negara berkembang di kawasan ini juga akan tetap meneruskan pertumbuhan yang kuat pada tahun 2006-2007.Demikian chief economist ADB, Ifzal Ali dalam seminar yang diselenggarakan ADB selama pertemuan tahunan ke-38 di Istanbul, Turki, Jumat (6/5/2005).Ali memperkirakan, ekonomi negara berkembang di Asia Pasifik akan tumbuh dari 6,5 persen menjadi 6,9 persen selama periode 2005-2007. Kenaikan pertumbuhan itu terutama dipicu oleh maraknya permintaan domestik dan perdagangan intra regional yang semakin menguat.Kawasan ini selama tahun 2004 mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, dimana PDB tahun 2004 tumbuh 7,3 persen. Menurut Ali, pertumbuhan kawasan ini akan terus berlanjut selama perdagangan intra regional dan kekuatan integrasi menjadi pengendali ekonomi kawasan ini. "Negara berkembang Asia telah membangun kekuatannya sehingga memungkinkan negara-negara tersebut memperoleh keuntungan dari kesempatan yang ada dan lebih tahan pada guncangan," papar Ali. Namun demikian, Ali mengingatkan, negara berkembang di Asia harus lebih waspada, sehubungan adanya risiko yang berkembang secara significan ditengah lingkungan eksternal yang positif. Ia mencontohkan adanya ketidakseimbangan dunia yang menjadi risiko utama kawasan ini. Untuk itu Ali menyarankan agar negara berkembang Asia harus memainkan peranan yang lebih besar untuk mengurangi ketidakseimbangan dunia.Hal senada disampaikan chief economist Deutsche Bank, Norbert Walter yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia pasca krisis telah mencapai tingkat yang sangat baik. Walter menambahkan, kehadiran Cina dan juga India telah memberikan landasan bagi performans yang baik pada masa-masa melemahnya pertumbuhan negara-negara industri. "Selama pemulihan ekonomi yang telah berurat berakar, perhatian telah beralih dari pencapaian pertumbuhan yang tinggi menjadi bagaimana menjaga perekonomian tetap berada di jalur yang berkesinambungan," kata Walter. Namun ia mengingatkan kewaspadaan yang perlu diterapkan di Cina adalah berkaitan dengan investasi yang berlebihan. Ia menilai, negara Asia harus bisa melengkapi semua hal seperti reformasi sektor perbankan, pengembangan pasar keuangan lokal yang lebih sehat dan penegakan hukum yang lebih kuat termasuk perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual. Walter memperingatkan bahwa negara Asia tidak boleh berbuat kesalahan dengan berpuas diri. "Asia harus memperkuat aturan di pasar untuk dapat tetap relevan dengan lingkungan global dan dalam rangka mengahadapi tumbuhnya persaingan," ujar Walter.Sementara Asia Pacific Foundation of Canada Chief Economist, Yuen Pau Woo menambahkan, belanja konsuman akan menjadi kunci utama bagi perlambatan ekonomi Cina. Dia mengatakan, risiko mata uang akan menjadi dilema bagi bank sental Asia dan dia mencatat perlunya ada dialog dan koordinasi diantara negara-negara Asia. Sementara David Roland-Holst dari Universitas California memperkirakan, Asia akan tetap berkembang dalam dua dekade mendatang. Dia mengatakan, kehadiran dua negara dengan penduduk terbesar di dunia yakni Cina dan India akan menjadi potensial terbesar bagi ekspansi perdagangan. "Namun bagaimanapun, tetap diperlukan adanya sebuah kebijakan untuk memfasilitasi hal ini, yang akan melibatkan pembangunan infrastruktur, promosi, investasi swasta regional, hubungan kebijakan perdagangan dan pengurangan kemiskinan," demikian Roland-Holst.
(qom/)











































