Jurus Bupati Anas Amankan Inflasi di Banyuwangi

Mega Putra Ratya - detikFinance
Kamis, 27 Jul 2017 14:59 WIB
Mendagri Tjahjo Kumolo menyerahkan penghargaan ke Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas/Foto: Dok Pemkab Banyuwangi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah dan provinsi yang berhasil menekan angka inflasi daerahnya pada tahun 2016 lalu. Salah satu daerah yang menerima penghargaan itu adalah Kabupaten Banyuwangi.

Penghargaan diserahkan Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi yang dihadiri Presiden Joko Widodo, jajaran menteri Kabinet Kerja, dan Gubernur BI Agus Martowardojo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Poin keunggulan Banyuwangi adalah pengembangan ekonomi pedesaan melalui sinergi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Badan Urusan Logistik (Bulog). Penghargaan ini datang dari Kelompok Kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Nasional yang terdiri atas Kementerian Koordinator Perekonomian, Kemendagri, Kemenkeu, dan BI.


Bupati Anas menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah mendukung daerah mengendalikan inflasi. "Terbukti selama Ramadan dan Lebaran lalu, harga-harga stabil. Ini bukti sinergi pusat dan daerah yang baik," ujar Anas dalam keterangan tertulis.

Anas mengatakan, inflasi mendapat perhatian serius. Dengan perekonomian Banyuwangi yang terus menanjak, inflasi harus dijaga agar daya beli rakyat tidak tergerus.

"Pendapatan per kapita warga kami meningkat pesat, namun inflasi harus terjaga. Alhamdulillah, inflasi Banyuwangi masih terus terendah. Termasuk hingga Juni 2017, inflasi kami terendah dibanding daerah-daerah lain di Jatim. Inflasi kami sebesar 2,1%, sedangkan rata-rata Jatim 2,97%," ujar bupati 43 tahun ini.

Sinergi BUMDes dan Bulog di Banyuwangi, kata Anas, adalah upaya memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga daya tahan ekonomi rakyat. Program sinergi BUMDes dan Perum Bulog berangkat dari upaya meningkatkan daya saing desa, terutama setelah adanya kucuran dana ke desa yang mencapai miliaran rupiah.

"Dana untuk desa baik dari APBN maupun APBD sangat besar, dan itu harus bisa mendorong penguatan ekonomi masyarakat, termasuk melalui penguatan kapasitas BUMDes. Dari sana lahir sinergi BUMDes dan Bulog," ujar Anas.

Saat ini, terdapat 35 BUMDes di Banyuwangi yang sudah bersinergi dengan Bulog. Bulog memasok kebutuhan pokok bagi warga desa lewat BUMDes. Semuanya dijual dengan harga yang lebih kompetitif dibanding harga pasar. Rantai distribusi bahan pangan pun terpangkas, sehingga harga bisa lebih murah.

"Kan selama ini kita melihat daya beli warga desa bisa terancam karena fluktuasi pendapatan. Salah satu strategi untuk menjaga daya beli itu adalah dengan memastikan distribusi kebutuhan pangan bisa terjaga dengan lancar lewat BUMDes," papar Anas.


Dengan demikian, sinergi Bulog dan BUMDes bisa sekaligus menjawab dua kebutuhan/tantangan sekaligus, yaitu memperlancar distribusi bahan pangan untuk mengendalikan harga dan menjaga daya beli warga, sekaligus memberdayakan serta memperkuat ekonomi pedesaaan.

"Artinya daya beli rakyat bisa terjaga, ekonomi desa kuat, dan secara keseluruhan daerah bisa mandiri secara bertahap. Kita akan terus tingkatkan jumlah BUMDes yang meneken kerja sama resmi dengan Bulog," kata Anas. (ega/mkl)