Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 28 Jul 2017 20:13 WIB

Peluang Bisnis Syariah RI: Konsumsi Halal Food Peringkat 1 di Dunia

Citra Fitri Mardiana - detikFinance
Foto: iStock/China Daily Foto: iStock/China Daily
Jakarta - Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia belum bisa menjadi pelaku industri halal di dunia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, Indonesia berada di urutan pertama pengkonsumsi halal food terbesar di dunia, namun tetap saja Indonesia belum bisa menjadi pelaku usaha halal food secara global.

"Masalahnya Indonesia ini adalah yang paling tinggi untuk menggunakannya tapi belum menjadi playernya. Misalnya halal food kita ranking 1, US$ 1,17 triliun. Tapi kita player di halal food itu belum ada," ungkap Perry di Fairmont Hotel, Jakarta, Jumat (28/7/2017).

Begitu juga pada bisnis di bidang lainnya seperti travel dan fashion. Indonesia tercatat berada di urutan ke lima di dunia, namun lagi-lagi Indonesia tetap belum mampu menjadi pelaku usaha di sektor tersebut.

"Kemudian juga halal travel, halal fashion, kita belanjanya renking ke 5 tapi kita belom punya player. Sementara negara lain yang bahkan non muslim, seperti Korea, Thailand mereka jadi player travel," terangnya.

Potensi pengembangan industri halal pun dirasanya masih terbuka sangat lebar, apalagi tren hijab fashion yang sekarang tengah digandrungi di dunia.

"Belum lagi kosmetik, kira-kira ada 44 item (kosmetik dan fashion) yang anda gunakan setiap hari," ujarnya.

Lebih lanjut Perry menambahkan, besaran volume aktivitas bisnis halal secara global akan meningkat pada tahun 2021 menjadi US$ 6,38 triliun dari sebelumnya pada 2015 sekitar US$ 3,84 triliun.

Oleh karena itu, Perry mengaku, Indonesia harus segera bergerak cepat untuk mengembangkan industri halal. Sehingga tak hanya menjadi pasar terbesar, tapi juga sebagai pelaku yang bisa mengendalikan pasar global.

"Kalau enggak kita garap, nanti kita hanya sebagai pasar saja. Kita perbesar usaha-usaha ekonomi syariah ini, Indonesia halal suply chain," terangnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com