Follow detikFinance
Rabu 09 Aug 2017, 19:57 WIB

Momen Lebaran Tak Lagi Istimewa Bagi Pengusaha Ritel

Hendra Kusuma - detikFinance
Momen Lebaran Tak Lagi Istimewa Bagi Pengusaha Ritel Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Jakarta - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asprindo) memastikan, momen Lebaran tak lagi istimewa bagi sektor ritel nasional. Biasanya sektor ini kecipratan untung berlipat karena masyarakat akan mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya.

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, penjualan ritel khususnya sektor makanan sangat tergantung oleh tiga momen akbar setiap tahunnya, yaitu puasa dan Lebaran, liburan sekolah, dan tahun baru.

Hingga semester I-2017, realisasi penjualan sektor ritel di Indonesia merosot tajam dengan hanya mampu tumbuh sekitar 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang bisa mencapai 10% hingga 14%.

Dia menjelaskan, peritel untuk kategori makanan akan mengejar omzet sebesar 50%-52% di saat puncak konsumsi pada Lebaran. Sisa omzetnya dikejar di bulan-bulan lainnya. Namun, dengan melihat data realisasi penjualan diharapkan adanya keajaiban.

"Kita berharap ada miracle, tapi kita 15 Agustus dengan adanya diskon besar-besaran, dan diharapkan yang dikhawatirkan masyarakat hilang akhirnya optimisme berbelanja tetap ada," kata Tutum di Jakarta, Rabu (9/8/2017).


Lanjut Tutum, tumbuh tipisnya konsumsi rumah tangga di kuartal II-2017 juga dikarenakan beberapa faktor, salah satunya mundurnya pencairan gaji ke-13 untuk PNS.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga mengubah prilaku khususnya masyarakat menengah dalam menggunakan dananya untuk belanja.

"Jadi kalau income per kapita naik, maka di kantongnya akan ada saving, dia tidak perlu nunggu THR untuk belanja, karena kalau orang belum punya saving maka last minute dapat THR dia langsung kebut habiskan," jelas dia.


Sementara itu, Ekonom dari INDEF Berly Martawardaya mengatakan, indikasi perlambatan ekonomi yang berdampak pada daya beli juga sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan ini.

Dengan begitu, kata Berly, terjadi perubahan pola konsumsi di kalangan masyarakat sebagai penyesuaian dari perkembangan ekonomi.

"Apalagi ini ada keterlambatan THR dan subsidi beras yang mengganggu konsumsi di tingkat bawah. Pola tidak mesti BLT tetapi ada program keluarga harapan (PKH), ini bisa diperlebar sehingga alokasinya bisa langsung di belanjakan," kata Berly. (mkj/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed