Follow detikFinance
Jumat 11 Aug 2017, 22:30 WIB

Ekonomi RI Tumbuh di Level 5%, Ini Pesan Sri Mulyani

Hendra Kusuma - detikFinance
Ekonomi RI Tumbuh di Level 5%, Ini Pesan Sri Mulyani Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia di hadapan ratusan mahasiswa dari sejumlah universitas. Para mahasiswa ini ada yang hadir di lokasi acara, Kantor Pusat Ditjen Pajak, dan ada pula yang mengikuti lewat video conference.

Sri Mulyani mengatakan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan berada di level 5%. Namun, Sri Mulyani berpesan capaian itu jangan langsung dibanggakan.

"Jadi enggak boleh bangga, lihat ke belakang lihat wajah Soekarno-Hatta, harus sedih. Korea Selatan yang tadinya sama miskinnya dengan kita, sekarang sudah maju. Makanya kita harus terus menerus belajar, apa yang membuat kita tidak bisa lari lebih cepat? Ini tantangan kita," kata Sri Mulyani di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jumat (11/8/2017).


Sebab, menurut Sri Mulyani, indeks pembangunan manusia di Indonesia skornya masih 70,18. Jika dalam pelajaran nilai itu setara dengan 'B'. Tidak hanya itu, dari sisi pengeluaran per kapita per tahun, Indonesia hanya sekitar Rp 10.420.000 atau menduduki peringkat 70 di dunia, dan lebih rendah dibanding Malaysia yang sudah Rp 80 juta per tahun atau Singapura Rp 92,5 juta per tahun.

"Kalau dibanding negara lain, kita patut untuk merasa belum cukup baik," tutur Sri Mulyani.

Selain itu, Indonesia masih tertinggal di sektor pendidikan, padahal pendidikan menjadi upaya agar masyarakat menjadi aset yang berguna bagi negara. Sri Mulyani mengutip data Programme for International Student Assessment Indonesia di 2015. Data ini menunjukkan peringkat dan capaian nilai pelajar yang menguasai matematika, membaca Indonesia berada di posisi ke enam terbawah dari 69 negara.


"Makanya, kami keluarkan anggaran untuk mulai bangun sekolah-sekolah vokasi yang bagus, untuk bisa sekolah dan jadi cerdas, serta harus mendapatkan kesehatan sejak di dalam perut ibunya," lanjut Sri Mulyani.

Pembangunan infrastruktur

Ketertinggalan Indonesia, kata Sri Mulyani juga terlihat dari gap antara pendapatan dengan pembangunan infrastruktur. Indeks infrastruktur Indonesia masih di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand, bahkan India.

"Sejak Indonesia merdeka dibanding negara setara dengan kita, indeks infrastrukturnya ada di bawah untuk negara yang dengan pendapatan mendekat US$ 4.000 per kapita. Artinya, Indonesia kurang membangun sehingga ekonomi dan masyarakatnya tidak mampu memiliki infrastruktur seperti yang dimiliki negara lain," terang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Sekarang, pemerintah mengebut pembangunan infrastruktur, bukan hanya infrastruktur berat seperti jalan, jembatan, bendungan, melainkan juga infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi.

"Jadi 2 investasi di bidang infrastruktur dan pendidikan, Indonesia harus melakukan ini," papar dia.


Kendati demikian, salah satu upaya pemerintah untuk mengejar ketertinggalan tersebut melalui sadar akan pajak. Sebab, pajak merupakan instrumen mencapai keadilan dan kemakmuran, serta sebagai modal pembiayaan pembangunan nasional.

"Jadi mulai dari diri anda, kalau anda tidak peduli republik ini. Jangan harap orang lain peduli dengan negara anda, care saja enggak, apalagi respect, " pungkas Sri Mulyani. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed