Follow detikFinance
Senin 04 Sep 2017, 07:00 WIB

Proyek Bandara Hingga Tol Ini Dibangun Tanpa Kuras APBN

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Proyek Bandara Hingga Tol Ini Dibangun Tanpa Kuras APBN Foto: Pool
Jakarta - Sebanyak tiga proyek infrastruktur yang meliputi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, jalan tol, dan pembangkit listrik akan didukung oleh skema Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA).

Ketiga proyek infrastruktur yang menggunakan skema PINA adalah Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dengan total nilai proyek Rp 2,1 triliun, dan PT Waskita Toll Road yang akan melepas sebagian kepemilikannya di sembilan ruas jalan tol untuk total proyek Rp 69,74 triliun.

Selanjutnya proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Meulaboh, Aceh, oleh PT PP Energi dengan total nilai proyek Rp 7,1 triliun.

Total nilai investasi ketiga proyek tersebut sekitar Rp 79 triliun. Ketiga proyek tersebut memiliki ekuitas Rp 10 triliun dan diharapkan bisa disepakati pembiayaan kekurangannya pada bulan ini, dengan penyertaan ekuitas dari PT Taspen dan PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur).

"PINA kita cari investor untuk menutupi kekurangan modal dari pemegang konsesi," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (3/9/2017).

BIJB Kertajati yang didukung penuh Pemprov Jawa Barat dan Kementerian Perhubungan, tengah dalam proses penerbitan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) dengan nilai Rp 950 miliar, yang dibantu penasihat keuangan PT SMI dan manajer investasi PT Danareksa Investment Management.

"Bandara Kertajati, mereka juga butuh modal dan sudah ada skema reksa dana penyertaan terbatas atau RDPT. Sudah punya komitmen dari calon-calon investor dan Insya Allah sebentar lagi sudah deal," ujar Bambang.

Selanjutnya, PT Waskita Toll Road akan mendapatkan pembiayaan untuk pembangunan ruas tol dengan melepas sebagian kepemilikan saham di sembilan perusahaan pengelola jalan tol yang diestimasi sekitar Rp 8 triliun. Divestasi tersebut dibantu oleh PT Danareksa Securities, PT CIMB Securities, PT BNI Securities, serta pihak lain seperti LMAN, PT PII, dan BNI.

"Waskita Toll Road karena banyak ruas dipegang, ada Trans Jawa, Jabodetabek, dan Sumatera dalam tahap finalisasi dapatkan investor strategis ada 3 investor Insya Allah segera ditentukan siapa yang akan jadi kontraktor strategisnya," kata Bambang.

Proyek lainnya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga uap dengan kapasitas sebesar 2 x 200 MW di Meulaboh, Aceh, milik PT PP Energi, melalui penerbitan perpetuity notes maupun RDPT Rp 1 triliun. Pemenuhan ekuitas pembiayaan tersebut dibantu oleh PT Danareksa Capital.

"Mereka butuh modal, mereka terbitkan perpetuity notes atau bond," ujar Bambang.

Selain itu, dana jangka panjang seperti dana pensiun juga bisa mendapatkan imbal hasil atau return yang lebih tinggi dibandingkan instrumen lainnya, yaitu mencapai 13%.

"Return untuk setiap project kita pasang minimal IRR 13% tapi dalam angka rupiah tentu," ujar Bambang.

Keberadaan PINA Center yang dibentuk sesuai Perpres No 58 tahun 2017 mengenai Program Strategis Nasional mendapatkan tugas mengoordinasikan pembiayaan investasi non anggaran pemerintah dan berfungsi melaksanakan kegiatan fasilitasi creative financing untuk proyek-proyek infrastruktur. Selain itu, membantu pemilik proyek baik pihak swasta maupun BUMN dan investor mendapatkan solusi dan percepatan proses tercapainya kesepakatan.

"Sesuai perintah Presiden agar bekerja cepat, kami berupaya keras untuk memfasilitasi berbagai hal di PINA Center termasuk de-bottlenecking hambatan dan isu terkait pembiayaan ekuitas non anggaran pemerintah untuk mempercepat terjadinya financial closed," jelas Bambang.

Beberapa instrumen baru untuk percepatan proyek infrastruktur dan creative financing adalah RDPT infrastruktur, perpetuity notes, IDR global bonds, dan infrastructure project bonds. Perpetuity notes adalah surat berharga yang diterbitkan tanpa ada masa pelunasan dan pembayaran kuponnya dilakukan secara periodik untuk selamanya, sehingga dana yang masuk bisa digunakan memperkuat ekuitas jangka panjang perusahaan dalam membangun proyek-proyek infrastruktur.

"Kami memberikan apresiasi kepada Otoritas Jasa Keuangan, yang telah mendukung terciptanya instrumen baru pembiayaan infrastruktur seperti perpetuity notes," jelas Bambang. (mkj/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed