Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Sep 2017 12:13 WIB

Tekan Impor, Produksi Jagung di Bengkulu Selatan Digenjot

Mega Putra Ratya - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Bengkulu - Pemerintah berupaya menekan impor jagung di tahun 2017. Salah satunya dengan menggenjot produksi jagung di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu.

"Alam lahan Bengkulu subur, iklim mendukung, semangat bekerja, potensi ekonomi akan mampu menggerakkan ekonomi dengan kebijakan yang tepat," ujar Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dalam keterangan tertulis, Rabu (20/9/2017).

Rohidin mengatakan itu dalam acara tanam perdana jagung di Kabupaten Bengkulu Selatan. Acara ini dihadiri oleh Mentan Amran Sulaiman dan Menteri Desa dan PDTT Eko Putro Sandjojo.

Mentan Amran mengatakan sampai hari ini jagung dari luar negeri belum mampu menembus pasar Indonesia. Hal itu karena kebutuhan jagung telah tercukupi oleh produksi dalam negeri.

"Alhamdulillah capaian kita untuk jagung tahun ini, sampai hari ini tidak ada impor, ini setelah impor puluhan tahun, bahkan negara tetangga Malaysia, Filipina itu telah siap menerima impor jagung dari Indonesia," kata Amran.

Menggeliatnya produksi jagung tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah. Salah satunya menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) jagung Rp 3.150/kg.

"Hal ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi jagung dalam negeri. Sekarang kita bergerak baru 1 tahun 2 tahun kita sudah tidak impor, ini terus kita lanjutkan, di Jawa Tengah, di Sulsel dan juga di Medan," tuturnya.

Sementara itu Mendes Eko menegaskan dukungannya pada program yang dijalankan Kementan. Eko menjabarkan bahwa terjadi peningkatan anggaran dana desa dari tahun ke tahun mulai dari Rp 300 juta per desa di tahun 2015 menjadi Rp 800 juta di tahun 2017.

Kemendes bersama Kementan telah mengembangkan program produk unggulan kawasan pedesaan untuk mengembangkan produk komoditas unggulan. Untuk Kabupaten Bengkulu Selatan, akan dikembangkan 20 ribu hektare.

"Kementerian Pertanian akan memberikan bibit, pupuk, dan alsintan gratis untuk pertama kali tanam. 20 ribu untuk Kabupaten Bengkulu Selatan. Rata-rata sekarang 7 ton, kalau saja 5 ton dikali Rp 3.000 saja penghasilan Rp 300 miliar 2 kali panen, dengan embung bisa 2 kali panen karena air tersedia," jelas Eko.

Eko berharap produksi jagung mampu menjadi penggerak ekonomi di Bengkulu Selatan. Sehingga tidak ada lagi desa tertinggal di kabupaten tersebut.

"Dalam 2 tahun ke depan tidak ada lagi desa tertinggal di Bengkulu Selatan. (Asalkan) Masyarakat harus ikut mengawasi," pungkasnya. (ega/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com