Follow detikFinance
Jumat 06 Oct 2017, 15:36 WIB

BUMN Dituding Kuasai Proyek Infrastruktur, Ini Respons WIKA

Muhammad Idris - detikFinance
BUMN Dituding Kuasai Proyek Infrastruktur, Ini Respons WIKA Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Kalangan pengusaha mengeluhkan terlalu dominannya BUMN menggarap proyek-proyek pemerintah. Peran terlalu besar perusahaan pelat merah tersebut terlihat dari banyaknya anak-anak hingga cucu perusahaan yang ikut terlibat dalam proyek, termasuk sub kontraktor.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani, dalam acara penutupan Rakornas Kadin 2017, Selasa (3/10/2017).

Namun, menurut Direktur Keuangan PT Wijaya Karya, Steve Kosasih, BUMN tak dominan di berbagai proyek pemerintah, terutama infrastruktur. Dalam setiap pekerjaan, pihaknya selalu melimpahkan pekerjaan-pekerjaan sub kontraktor pada swasta.

"WIKA itu kalau mengerjakan proyek sub kontraktornya banyak sekali. Contoh kita bikin jalan tol, kita enggak beli batu, belinya readymix yang isinya semen, batu, pasir, WIKA enggak punya itu, pasti beli dari yang lain, dari swasta. Enggak ada BUMN jualan batu. Semen dari Semen Indonesia, sebagian lagi dari swasta," kata Steve ditemui di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Jumat (6/10/2017).


"Mengerjakan LRT dan MRT kenapa ke kita? Itu waktu betonnya dari kita, Wika Beton, karena memang cocok, enggak pernah bilang swasta enggak diikutkan, sub kontraktor kita semuanya swasta, misalnya pekerjaan kayaknya WIKA semua yang kerjakan, tapi sebenarnya komponen swastanya besar," tambah Steve.

Dia menuturkan, banyak proyek-proyek dari pemerintah juga memberatkan cash flow perusahaan swasta, sehingga pekerjannya dilakukan BUMN.

"Sebagian besar swasta, bisnis kontraktor menurut kami enggak banyak makan banyak jatah swasta, karena swasta juga enggak senang-senang amat mengerjakan ini, karena berat di depan ongkosnya. Contohnya kita mau buat jalan tol kita lagi tender di Panimbang, itu availability payments 15 tahun, alias dibayar sampai 15 tahun, dibayar berapa? Ya tergantung pemerintah ada duit berapa. Swasta enggak mau ambil begini, bukan enggak mau, tapi cenderug menghindari, karena duitnya terbatas," tutur Steve.


Selain itu, WIKA juga tak membentuk perusahaan-perusahaan yang sifatnya kecil sebagaimana yang dikeluhkan pengusaha.

"Karena kita enggak bikin perusahaan-perusahaan yang kecil kayak katering atau laudry. Tapi misal bangun tapi anda bayar di depan, tagih 15 tahun lagi ke depan, enggak banyak swasta yang mau. Ada enggak? Ada tapi enggak banyak. Yang swasta yang kerjain jalan tol juga sedikit kayak Astra, CMNP, tapi kan enggak gede, yang gede kan kita, HK, Jasa Marga, Waskita," terang Steve.


Dia melanjutkan, WIKA sendiri memang memiliki beberapa anak usaha yang mengerjakan pekerjaan sub kontraktor. Namun porsinya sendiri relatif tak besar dibandingkan dengan kontraktor dari swasta.

"Contoh setiap bangun pembangkit, refinery, dan lainnya itu pakai steel construction, kita punya enggak steel construction? Punya namanya Wikon, suplai ke semua proyek kita enggak? Enggak sampai 25%, itu masih kecil, sisanya dari swasta semua, swasta banyak banget," pungkas Steve. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed