Follow detikFinance
Senin, 23 Okt 2017 15:10 WIB

Kembangkan Alat Pertanian, Kementan Gandeng IPB

Niken Widya Yunita - detikFinance
ilustrasi petani (Foto: Grandyos Zafna) ilustrasi petani (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA) Institut Pertanian Bogor (IPB) akan bersinergi menciptakan dan mengembangkan teknologi mekanisasi pertanian serta pendampingan. Hal ini untuk meningkatkan produksi pangan dan keberlanjutan swasembada pangan.

Teknologi mekanisasi tersebut mencakup dari hulu sampai hilir sehingga tidak hanya meningkatkan produksi, akan tetapi kesejahteraan petani.

Dalam keterangan tertulis dari Kementan, Senin (23/10/2017), hal ini terungkap pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Peran Teknologi Pertanian dalam Keberlanjutan Swasembada Pangan' yang digelar Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan bersama PERTETA di Bogor, Minggu (22/10/2017) malam.

Pada diskusi ini, melalui sambungan telepon, Mentan Amran Sulaiman mengungkapkan ada lima poin penting yang perlu dibahas dalam FGD guna mewujudkan keberlanjutan swasembada pangan. Harapannya, dapat menyusun rumusan kebijakan yang dapat diaktualisasikan di lapangan.

"Pertama, program pendampingan untuk optimalisasi alat mesin pertanian (alsintan) bantuan pemerintah. Jumlah bantuan alsintan 180 ribu unit per tahun. Karena itu dibutuhkan pendampingan dari ahli mekanisasi yang anggotanya tersebar di semua provinsi," kata Amran.

Kedua, pengelolaan atau tata air wilayah rawa-lebak, pasang surut agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian khususnya padi dan kedelai. Ketiga, program atau paket mekanisasi hulu hingga hilir untuk peningkatan produksi non padi, jadung dan kedelai.

Keempat, paket teknologi mekanisasi pasca panen yang dapat menurunkan kehilangan dan meningkatkan kualitas produksi. "Misalnya mekanisasi pada padi, sudah hasilkan padi berkualitas bahkan beras sudah diekspor, akan tetapi tugasnya tidak hanya paket teknologi pada padi, namun untuk semua komoditas pangan," tegas Amran.

Kelima, diharapkan juga disusun program mengkorporasikan petani. Pasalnya mekanisasi merupakan faktor pendukung utamanya, disampaikan aspek permodalan, tataniaga, dan manajemen modern.

"Bagaimana skala usaha tani dapat optimal dan pengelolaan korporasi yang tepat bagi petani," sebut Amran.

Terkait hal ini, Ketua Pengurus Pusat PERTETA, Desrial mengapresiasi program Kementan dalam mengedepankan penggunaan mekanisasi untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Menurutnya, program pendampingan dan pengembangan mekanisasi dapat dilakukan PERTETA.

"PERTETA memiliki cabang di semua provinsi. Pendampingan dan terutama program mengkorporasikan petani dan koperasi bisa dilakukan. Misalnya membuat pemetaan sebaran bantuan alsintan, penentuan lokasi distribusi, pelatihan, membangun bengkel atau klinik lokal, sehingga kerusakan alsintan bisa direspons cepat," ujarnya.

Ketua PERTETA Provinsi NTB, Murad menilai program pendampingan alsintan merupakan langkah nyata untuk mengoptimalkan penggunaan bantuan alsintan. "Dengan pendampingan ini, dapat dipastikan produksi dan kesejahteraan petani meningkat," ujarnya.

Kepala Pusdatin Kementan, Suwandi menegaskan di era pemerintahan Jokowi-JK yakni pada 2014 hingga 2017, Kementan telah menyalurkan bantuan alsintan 284.436 unit atau naik 2.175 persen dari 2014 yang hanya 12.501 unit. Hasilnya, produksi pangan strategis meningkat secara signifikan. Misalnya produksi padi 2017 sebesar 81,5 juta ton naik 15,1% dari 2014, jagung 26,0 juta ton naik 36,9%, aneka cabai 1,90 juta ton naik 1,5% dan bawang merah 1,42 juta ton naik 15,3% dari 2014.

"Nilai tambah peningkatan produksi dari tahun 2014 hingga 2016 untuk 43 komoditas mencapai Rp 288 triliun," tegasnya.

Selain itu, Kementan juga berhasil meningkatkan luas tambah tanam (LTT) menjadi 16,39 juta ha meningkat 2,34 juta ha atau 16,65% serta Indeks Pertanaman (IP) 1,73 persen atau meningkat 2,95 persen. Karena itu, sejak 2016 tidak impor beras, cabai segar, dan bawang merah.

"Kemudian impor jagung 2016 sebesar 1,13 juta ton turun 62 persen dari 2015 sebesar 3,26 juta ton dan tahun 2017 tidak impor jagung dan gandum pakan ternak, sehingga hemat devisa 10,6 triliun," pungkas Suwandi.

Perlu diketahui, FGD ini menghasilkan pola koordinasi PERTETA dengan Kementan. Untuk kegiatan pendampingan bekerja sama dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, kegiatan penelitian dan pengembangan bekerja sama dengan Balai Besar Mekanisasi dan kegiatan pemanfaatan lahan lebak bekerjasama dengan Balai Penelitian Rawa, Kementan.

Hadir pada diskusi ini Staf Khusus Mentan, Sam Herodian, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi, Ketua PERTETA, Prof. Desrial, Tenaga Ahli Mentan, Budi Indra Setiawan, Kepala Balai Besar Mekanisasi Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah, Ketua Cabang PERTETA Se Indonesia.

Capaian 3 Tahun di Tengah El Nino

Kebijakan dan program strategis Kementerian Pertanian (Kementan) dalam tiga tahun terakhir dinilai mampu meningkatkan produksi terlebih melewati musibah El Nino tahun 2015 kemudian diikuti La Nina 2016 dengan berbagai program antisipasi dini dan mitigasi. Perlu dicatat, El Nino 2015 lebih kuat dibanding tahun 1997.

"Kita lihat, dari hasil kajian, El Nino 1997 dengan kekuatan SST Anom 2,67 derajat celcius merupakan El Nino terbesar sebelum 2015. Sementara bandingkan El Nino 2015 yang kekuatannya SST Anom 2,95 derajat celcius tertinggi selama ini. Walau demikian, dari data BPS, pada 2015 produksi padi 75,4 juta ton naik dibanding 2014 yang hanya 70,9 juta ton," demikian diungkapkan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi, Senin (23/10/2017).

Lebih lanjut Gandhi membeberkan dampak El Nino 1997 mengakibatkan sawah mengalami kekeringan 517 ribu hektare dengan puso 87 ribu hektare dari luas padi 11 juta hektare. Akibatnya, Indonesia impor beras pada 1998 yakni 7,1 juta ton dan 1999 yakni 5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi 202 juta penduduk.

"Nah menariknya jika tidak ada kebijakan dan program spektakuler meredam dampak El Nino 2015, maka musibah 1997 terulang sehingga Indonesia impor berasnya lebih tinggi. Jika dihitung linier dengan ekstrapolasi maka jumlah penduduk 2015 sebesar 252 juta jiwa dipastikan Indonesia akan terpaksa impor 16,6 juta ton beras," beber dia.

Menurut dosen Program Studi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB ini, pencapaian melewati dampak El Nino 2015 tersebut, karena Menteri Pertanian Amran Sulaiman berani membuat terobosan menghadapi El Nino 2015. Pertama pompanisasi besar besaran pada wilayah sungai sungai tersedia air.

"Bantuan 23 ribu unit pompa air sangat membantu petani dengan cepat memperoleh air untuk padinya, sehingga tidak ada cerita kekeringan. Makanya produksi padi pada 2015 terjamin", ungkapnya.

Kedua, membangun sumur dangkal 1.000 unit di NTT, juga di Grobogan dan daerah lainnya. Ketiga, mendistribusikan benih unggul tahan kekeringan. Keempat, menggenjot tanam padi di sebelah utara garis katulistiwa yang tidak terkena El Nino dan di wilayah rawa lebak dan pasang surut potensial saat kering kena El Nino di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Selanjutnya kelima, Kementan menjalin kerja sama intensif dengan KemenPUPR, hujan buatan dengan BNPB, TNI, dan berbagai pihak.

"Keberhasilan menghadapi musibah El Nino 2015 dimantapkan lagi pada program Upsus sehingga produksi padi 2016 naik menjadi 79,3 juta ton dan mengantarkan Indonesia swasembada beras. Bahkan pada 2017 melihat berita di media, itu sudah ekspor beras dari Merauke ke Papua Nugini pada Februari 2017 dan dari Entikong ke Malaysia tiga hari yang lalu," ujarnya

Kinerja produksi cabai dan bawang merah juga meningkat dan meraih swasembada pada 2016. Jagung swasembada dan tidak impor pada 2017.

"Iya kalau dihitung deltanya, nilai tambah dari peningkatan produksi pada 43 komoditas sejak 2014-2016 sangat tinggi Rp 288 triliun dan dicerminkan dari pertumbuhan PDB pertanian," pungkas Gandhi. (nwy/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed