Follow detikFinance
Senin, 30 Okt 2017 19:15 WIB

Orang RI Banyak Pegang Smartphone, Kok Transaksi Online Kecil?

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Dalam urusan penetrasi internet, Indonesia bisa dikatakan relatif cukup pesat pertumbuhannya. Namun demikian, transaksi online lewat e-commerce masih sangat sedikit, hanya kurang dari 2% saja. Apa sebabnya?

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA/Indonesia E-Commerce Association), Aulia Ersyah Marinto, menjelaskan ada banyak faktor transaksi di e-commerce Indonesia masih sangat kecil meski jaringan internet cepat sudah tersedia di banyak wilayah.

"Banyak faktor orang belum banyak melakukan belanja online. Pertama orang masih nyaman belanja langsung, kedua kemudahan, ketiga trust. Belum banyak orang percaya beli online, misalnya dalam pengiriman barang dan lainnya. Orang misalnya masih lebih percaya datang langsung ke mal daripada beli online," papar Aulia kepada detikFinance di Jakarta, Senin (30/10/2017).


Selain itu, kesadaran (awareness) dari kemudahan yang ditawarkan toko online juga belum sepenuhnya diterima masyatakat luas di Indonesia. Ini tercermin dari penggunaan smarthpone yang sudah sangat meluas, namun tak digunakan secara optimal untuk memudahkan aktivitasnya.

"Tidak soal geografis, tapi kaitannya dengan awareness. Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta saja even banyak yang enggak aware (teknologi). Maksudnya punya gadget tapi enggak dipakai buat buka e-commerce. Atau gadget tapi tahunya untuk buka Facebook," kata Aulia.


"Contoh lainnya media massa online meski gratis pun belum banyak diakses. Orang pakai data (internet) tapi belum dipakai banyak. Tapi ini jadi challenge untuk e-commerce tumbuh besar. Saat ini orang yang sudah transaksi di e-commerce sudah 10 juta orang, padahal pemilik smartphone jumlahnya hampir sama dengan jumlah penduduk," imbuhnya.

Menurut catatannya, booming orang berbelanja online, khsusnya lewat toko e-commerce, baru mulai terasa sejak 5 tahun yang lalu. Indonesia sendiri relatif terlambat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

"Mulai gencar 5 tahun terakhir, mulai semaraknya. Memang pelaku e-commerce banyak yang sudah mulai dari tahun 2009, tapi mulai ramainya 5 tahun belakangan," pungkas Aulia. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed