Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Nov 2017 11:21 WIB

Blak-blakan Rini Soal Proyek 'Kecebong' yang Disindir Roy Suryo

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Pool Foto: Pool
Bekasi - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung disebut proyek bohongan oleh politikus partai Demokrat, Roy Suryo, menyusul tak kunjung nampaknya pembangunan dari proyek itu. Proyek itu juga dituding hanya untuk kepentingan pengembang, bukan demi peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Menteri BUMN, Rini Soemarno, menjawab tudingan tersebut. Rini mengatakan pembangunan mega proyek senilai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 78,6 triliun ini masih terus berjalan dan bukan proyek bohongan seperti yang ditudingkan belakangan ini.

"Enggak bohong-bohongan kok. Beneran. Cuma memang memakan waktu," kata Rini saat ditemui usai peresmian tol Becakayu seksi 1B dan 1C di Bekasi, Jumat (3/11/2017).

Rini menjelaskan, perubahan trase dari proyek yang menyambungkan Jakarta dan Bandung ini membuat waktu penetapan lokasi molor sehingga pembebasan lahan pun juga demikian. Hal ini pun membuat pembebasan lahan dan pekerjaan di lapangan molor dari target yang ditentukan di awal.

"Memang akhirnya harus diakui begini, seperti (Tol) Becakayu, tadinya kita harapkan ini akhir tahun selesai semua. Tapi itu hitungan kita, ternyata pembebasan lahan tidak seperti yang kita perkirakan. Biarpun semua semangat, tetap pembebasan lahan itu memakan waktu," tutur Rini.


"Kereta Cepat ini juga. Ternyata trasenya itu sesuatu yang baru, kita harus menunggu RTRW (rencana tata ruang wilayah) nasional. RTRW nasional akhirnya baru keluar akhir April 2017. Setelah RTRW nasional, harus keluar penetapan lokasi dari provinsi. Penetapan lokasi Provinsi DKI baru keluar minggu ketiga September, dan dari Jawa Barat akhir September. Setelah itu baru bisa kita pembebasan lahan," jelasnya.

Rini bilang pekerjaan di lapangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung saat ini terus berlangsung dan progres pembebasan lahannya sudah 54%. Namun ada beberapa pekerjaan pemindahan rumah TNI Angkutan Udara (AU) yang harus dilakukan untuk merampungkan pembebasan lahan di Halim.

"Tapi Insya Allah akhir November ini akan besar-besaran. Pembangunan sudah kelihatan kalau anda ke Walini. Kalau perlu nanti kita ajak ke Walini. Itu sudah land clearing dan di situ sudah mulai untuk pembangunan tunnel (terowongan)-nya," ungkapnya.

Mengenai pinjaman dari China Development Bank (CDB), Rini bilang pada pertengahan bulan ini akan cair sebesar US$ 1 miliar. Namun China sendiri sebelumnya juga sudah memasukkan modal sekitar US$ 200 juta.

Sementara empat BUMN Indonesia dilibatkan dalam pembebasan lahan proyek. Keempat BUMN itu tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT WIKA, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga.


"Dari China nya sekarang sudah masukkan modal. Jadi total itu kita ada dana secara tunai US$ 200 juta, itu kita sudah pakai. Insya Allah pinjaman selanjutnya akan cair pertengahan November ini. Yang US$ 1 miliar," ujarnya.

"Jadi enggak bohong-bohongan kok. Beneran. Cuma memang memakan waktu. Saya sendiri terus terang suka frustasi, apalagi kalau sudah ngomel-ngomel. Cepetan dong. Tapi ternyata pembebasan lahan kita pikir pakai UU Nomor 2 Tahun 2012 cepat, cuma ternyata prosesnya lama," pungkasnya. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com