Regulasi Hambat Konversi Bahan Bakar Produsen Serat Sintetis
Selasa, 31 Mei 2005 16:18 WIB
Jakarta - Konversi pemakaian bahan bakar untuk memproduksi serat sintetis (synthetic fiber) dari minyak bakar menjadi batu bara terhambat aturan penggunaan batu bara untuk industri. Penyebabnya, limbah pembakaran batu bara dikategorikan limbah B-3.Demikian dikatakan Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSYFI), Kustarjono Prodjolalito, saat jumpa pers di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (31/5/2005)."Kami minta penjelasan pemerintah mengenai adanya peraturan tersebut. Karena dengan kenaikan harga BBM khususnya harga minyak bakar yang mencapai Rp 1.000 per liter membuat produsen synthetic fiber ingin mengubah bahan bakarnya ke batu bara," ujarnya.Dikatakannya, dengan harga minyak bakar Rp 2.400 per liter, maka akan menaikkan biaya produksi dalam setahun US$ 20 juta atau sekitar Rp 200-300 miliar.Sementara itu, Ketua Umum APSYFI Bacelius Ruru mengatakan, saat ini industri serat sintetis Indonesia hanya tinggal 15 perusahaan dengan kapasitas produksi sebesar 1.250 ribu ton per tahun dengan utilisasi 65 persen. Awalnya terdapat 22 perusahaan dengan kapasitas produksi mencapai 1.350 ribu ton per tahun yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor yang mencapai rata-rata 80 persen atau sekitar 1.080 ribu ton per tahun pada saat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia mengalami kejayaan.Hal yang menyebabkan menurunnya jumlah produsen serat sintetis, kata Ruru, karena persaingan dari negara penghasil tekstil seperti India dan RRC. Negara-negara tersebut telah mempersiapkan menghadapi persaingan global dan menyiapkan untuk menghadapi pembukaan kran ekspor dunia dengan dihentikannya sistem kuota di tahun 2005.Sedangkan di Indonesia persiapan tersebut terbentur banyak hal seperti infrastruktur dan suplai listrik yang belum memcukupi dengan kuantitas tegangan yang tidak stabil. Karena adanya persaingan itu, India dan RRC menambah kapasitas produksi serat sintetis yang besar, yang mengubah pola perdagangan ekspor serat sintetis.India akhirnya menjadi negara pengekspor yang besar, dan RRC yang semula pengimpor telah bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Hal itu menyebabkan negara yang semula mengekspor ke RRC mengalihkan ekspornya ke negara lain seperti Indonesia. Akibat adanya kelebihan pasokan, maka banyak produsen serat sintetis yang melakukan dumping seperti dilakukan oleh Taiwan, Korea dan Thailand.
(san/)











































