Bahas Blok Cepu, Presiden SBY Bertemu Exxon

Bahas Blok Cepu, Presiden SBY Bertemu Exxon

- detikFinance
Jumat, 10 Jun 2005 10:11 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan akan bertemu dengan tim negosiasi dari ExxonMobil Indonesia. Pertemuan itu akan membahas soal perundingan pengelolaan Blok Cepu antara pemerintah RI dan Exxon yang hingga kini belum sepakat mengenai angka-angkanya.Pertemuan antara Presiden SBY dan tim negosiasi Exxon akan dilakukan pada Jumat (10/6/2005) pukul 15.00 WIB di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta. Tim negosiasi Exxon terdiri dari Presiden GM ExxonMobil Indonesia Ron Wilson, dan Vice President Exploration ExxonMobil Indonesia Budiono. Negosiasi antara pemerintah dan Exxon sebenarnya telah berakhir pada 20 Mei 2005 lalu. Berdasarkan hasil negosiasi itu, pemerintah kemungkinan akan memperpanjang kontrak pengelolaan minyak di Blok Cepu dengan Exxon. Namun, perundingan antara pemerintah dengan Exxon hingga batas akhir perundingan belum menyepakati soal angka-angkanya.Juru bicara Tim Negosiasi Rizal Mallarangeng sebelumnya menyatakan, pemerintah Indonesia dan Exxon sama-sama optimistis perjanjian business to business antara Pertamina dan Exxon akan tercapai dalam waktu yang tak terlalu lama. "Kita masih akan harus menyesuaikan angka-angka yang belum disepakati. Kami tidak dapat menyebutkan angka secara spesifik di sini," kata Rizal.Kondisi yang ada sekarang, Indonesia menjadi net importer di OPEC, serta kenyataan harus menunggu lama jika harus menunggu kontrak baru lagi pada 2010, haruslah menjadi dasar dalam proses negosiasi. "Kita tidak mungkin lagi harus menunggu sampai 2010. Karena dengan negosiasi baru paling tidak memerlukan waktu dua tiga tahun. Dan baru mungkin berproduksi pada 2012 atau 2013," kata Rizal saat memberikan keterangan pers setelah batas akhir negosiasi.Pemerintah Indonesia dan ExxonMobil Indonesia (Exxon) membuka kembali negosiasi eksplorasi di Blok Cepu pada 20 April 2005 lalu. Bila negosiasi berjalan lancar, nilai investasi yang masuk diperkirakan mencapai US$ 2-2,6 miliar. Setidaknya ada empat alasan mengapa negosiasi dengan Exxon dibuka kembali. Pertama, Presiden SBY sudah memerintahkan untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin demi kepentingan nasional. Jadi ini bukan hanya sektoral, mengingat harga minyak terus meningkat, sementara produksi terus merosot.Alasan kedua, untuk meningkatkan investasi di Indonesia dalam rangka menggairahkan pembiayaan infrastruktur. Harus diyakinkan Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk berusaha sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan.Ketiga, untuk memperbaiki kondisi fiskal negara. Pendapatan negara berasal dari sektor migas. Pada tahun 1970-an, setiap ada kenaikan harga minyak, Indonesia selalu mendapat windfall atau bonanza minyak. Sekarang harga minyak naik sehingga Indonesia tidak untung lagi.Keempat, rencana pemerintah membesarkan Pertamina. Pertamina harus dibuka potensinya dengan perjanjian Blok Cepu sehingga dapat berkembang menjadi salah satu perusahaan minyak besar dunia.Pemerintah Indonesia dalam negosiasi dengan Exxon diwakili oleh sebuah tim yang terdiri dari perwakilan Menko Perekonomian, Menteri ESDM, dan Meneg BUMN. Sementara dari Exxon akan dipimpin Presiden GM ExxonMobil Indonesia Ron Wilson, dan Vice President Exploration ExxonMobil Indonesia Budiono. Dalam negosiasi itu akan dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar, misalnya soal pembagian hasil produksi, pembagian komposisi atau equity dan bonus untuk Pertamina. Pertamina semula berencana tidak memperpanjang kontrak ExxonMobil di Blok Cepu yang akan berakhir pada tahun 2010. Pertamina berniat akan mengelola sendiri Blok Cepu tersebut karena jika dikelola sendiri akan memberikan keuntungan signifikan bagi badan usaha milik negara tersebut. Dirut Pertamina Widya Purnama bahkan sudah membatalkan perjanjian induk (head of agreement) yang telah dibuat direksi lama karena meminta pihak ExxonMobil membuat proposal baru untuk mendapatkan perpanjangan kontrak yang akan berakhir pada tahun 2010. Alasan Widya, proposal yang lama mengacu pada perhitungan minyak mentah dengan harga US$ 20 per barel. Sementara saat ini harga minyak akan bergerak di atas US$ 40 per barel.ExxonMobil memastikan pengembangan Blok Cepu di Jawa Tengah akan meningkatkan produksi minyak Indonesia sekitar 20 persen dengan produksi minyak 170.000 barrel per hari pada tahun 2008. Blok Cepu juga diharapkan memberikan penghasilan US$ 4 juta per hari kepada pemerintah, atau US$ 1,5 miliar per tahun, dengan asumsi harga minyak US$ 35 per barel. (mar/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads