Follow detikFinance
Rabu 27 Dec 2017, 13:28 WIB

Lahan Bergaram di Pesisir Bisa Ditanami, Riau Bisa Surplus Beras

Muhammad Idris - detikFinance
Lahan Bergaram di Pesisir Bisa Ditanami, Riau Bisa Surplus Beras Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Provinsi Riau memiliki kondisi alam yang sangat khas yaitu dataran rendah dan lahan pesisir yang luas. Bentangan pesisir Riau dari wilayah Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Pelalawan, Indragiri Hilir sampai ke Kepulauan Meranti merupakan sumber daya alam yang sangat potensial untuk pertanian.

Namun begitu, menurut Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau, Kuntoro Boga Andri, banyak dari lahan di daerah ini dibiarkan menjadi rawa atau ditumbuhi semak belukar dan bakau. Padahal daerah miskin di Riau umumnya berada di kawasan ini.

Potensi alam inilah yang disasar Kementerian Pertanian (Kementan) untuk diolah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sejauh ini, Kementan tengah berupaya mengoptimalkan lahan-lahan sub optimal seperti lahan kering.

"Wilayah pesisir Riau dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dari sektor pertanian dan lumbung pangan nasional asalkan kita tepat memilih inovasi teknologi yang spesifik dan sesuai dengan kondisi lahannya," ujar Kuntoro dalam keterangan tertulis, Rabu (27/12/2017).

Menurutnya, Kementan telah melakukan upaya-upaya khusus dan berbagai terobosan teknologi yang didukung perbaikan infrastruktur pertanian di wilayah tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menjadikan tanaman pangan padi, jagung, dan kedelai sebagai komoditas unggulan ekonomi daerah selain sawit, kelapa, dan karet.

Langkah yang ditempuh oleh Kementan tidak hanya terbatas pada pemanfaatan potensi lahan sub optimal di pesisir Riau untuk pemenuhan pangan lokal, namun juga menjadikan daerah ini sebagai pemasok pangan di kawasan termasuk ekspor ke Negara tetangga Malaysia dan Singapura.

"Kehadiran teknologi yang tepat dan arif adalah harga mati untuk membangun pangan di lahan pesisir. Tantangan cekaman abiotik dan biotik harus disikapi secara bijaksana dan kunci keberhasilan adalah manajemen inovasi yang tepat, sehingga aspek ekonomi pangan bisa terbangun dan kelestarian lingkungan terus berlanjut," jelas Kuntoro.

Lanjut dia, pengembangan tanaman pangan di kawasan lahan pesisir umumnya menghadapi masalah lahan yang memiliki pH dan kadar garam yang tinggi, dan keracunan Fe. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan akar, batang, dan luas daun berkurang karena ketidakseimbangan metabolik yang disebabkan oleh keracunan ion NaCl, cekaman osmotik, dan kekurangan hara.

Selain itu tingkat serangan hama pengganggu yang tinggi seperti tikus, orong-orong dan kepinding tanah seringkali mengancam pertanaman petani dan mengakibatkan gagal panen.

Diungkapkan Kuntoro, saat ini beberapa lahan pesisir di Riau telah disulap menjadi lumbung pangan dan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di Kabupaten Meranti, BPTP bersama dengan kelompok tani setempat melakukan penanaman padi dan jagung di lahan pesisir pada total areal lebih dari 100 hektar.

Tim peneliti BPTP Balitbangtan Riau telah melakukan penanaman beberapa jenis padi lokal lahan pesisir di Desa Segomeng, Kecamatan Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti. Jenis padi lokal yang ditanam di meranti memiliki beberapa keunggulan seperti tahan garam, jumlah anakan banyak, ketahanan terhadap hama dan penyakit cukup baik, dan beras disukai masyarakat lokal.

"Pada akhir Desember ini panen raya akan dimulai di kawasan pesisir Meranti seluas 50 hektar dengan varitas yang dominan adalah Indragiri, Batang piaman, Inpara pelalawan, Inpari 34, Inpari 35 dan Inpara 9," ujar Kuntoro.

Petani setempat telah mampu mengatasi dan merubah tantangan alam dengan mengelola lahan salin (bergaram) di pesisir yang selama ini tidak memiliki manfaat ekonomis, menjadi lumbung pangan baru Kabupaten Meranti.

Panen di wilayah pesisir juga dinikmati para petani di Pulau Mendol, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan. Dengan potensi lahan 6000 hektar, kawasan ini telah dikelola oleh Dinas Pertanian Pelalawan bersama Kementrian Pertanian menjadi lumbung pangan di kawasan perbatasan.

BPTP bersama Dinas Pertanian Pelalawan telah melepas 5 Varietas Unggul Baru Padi Pasang Surut (Inpara Pelalawan, Mendol Pelalawan, Bono Pelalawan, Cekau Pelalawan dan Karya Pelalawan) yang sangat adaptif untuk kawasan pesisir dan disukai petani lokal dengan produktivitas mencapai 6-7 ton/hektar gabah kering giling (GKG).

Pengembangan padi organik secara masif dilakukan di Kecamatan Kuala Kampar yang mana petani membudidayakan padi mereka dengan minimal input dan hasilnya berpotensi menjadi beras khusus (indikasi geografis dan organik).

Hamparan lahan seluas 6000 hektar sawah di kawasan perbatasan dengan Malaysia ini akan menjadi pusat pertumbuhan baru untuk Kabupaten Pelalawan, sekaligus daerah produsen komoditas pangan untuk ekspor ke Malaysia dan Singapura. Dari Pulau Mendol saja dihasilkan 12-15 ribu ton beras yang siap memenuhi kebutuhan pasar di perbatasan Sumatra Riau dan Malaysia, Singapura.

Panen di kawasan pesisir lain Provinsi Riau juga mulai dirasakan di Kabupaten Indragiri Hilir dan Dumai. Panen di kawasan pesisir Riau akan dimulai akhir bulan Desember dan akan mencapai puncaknya pada Akhir Januari yang akan datang.

"Kawasan ini siap menjadi lumbung pangan yang dapat merubah Provinsi Riau yang semula defisit kebutuhan berasnya menjadi swasembada dan surplus pangan. Potensi lahan pesisir di Riau perlahan tapi pasti akan dipersiapkan menjadi salah satu lumbung pangan bagi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan," pungkas Kuntoro. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed