Cuekin Hasil Putusan OPEC, Harga Minyak Kembali Melonjak
Kamis, 16 Jun 2005 12:25 WIB
Jakarta - OPEC ibarat macan ompong bagi pasar minyak dunia. Kendati telah memutuskan untuk menaikkan produksinya sebanyak 500 ribu barel per hari mulai 1 Juli mendatang, namun harga minyak tetap bergeming. Harga minyak mentah dunia bahkan sempat menembus level tertinggi pada US$ 56 per barel. Pelaku pasar lebih banyak mengkhawatirkn menipisnya cadangan minyak AS ketimbang keputusan OPEC.Data yang dikeluarkan Departemen Energi AS menyebutkan, cadangan minyak mentah AS turun 1,8 juta barel menjadi 339 juta barel pada pekan yang berakhir pada 10 Juni. Data yang kontras dikeluarkan American Petroleum Institute, yang menyebutkan adanya kenaikan cadangan sebesar 4,49 juta barel menjadi 328,35 juta barel. "Pasar telah mencermati dan mengambil data itu sebagai tanda bulish dan mulai berpacu secara agresif," kata analis dari Societe Generale, Deborah White seperti dilansir AFP.OPEC pada pertemuannya Rabu (15/6/2005) lalu di Wina, Austria sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 500 ribu barel per hari menjadi 28 juta barel per hari. OPEC juga memberikan sinyal kenaikan kembali kuota produksi sebelum September.Harga minyak jenis light di New York untuk pengantaran Juli melonjak US$ 1,3 dolar menjadi US$ 56,3 dolar per barel pada awal perdagangannya kemarin. Di London, harga minyak jenis Brent untuk pengantaran Juli naik 94 sen menjadi US$ 54,67 dolar per barel. "Pesan dari pertemuan di Wina itu adalah, OPEC akan memompa minyak sebanyak yang bisa dijualnya serta menambah cadangan selama musim dingin, serta menghilangkan ketakutan soal kapasitas suplai dunia," ujar catatan riset Energyintel, seperti dilansir AP.Dalam beberapa pekan terakhir, pasar mulai dihantui ketakutan menciutnya suplai bahan bakar minyak seiring mulainya musim dingin di belahan bumi utara.Sejumlah analis menambahkan, tidak berpengaruhnya putusan OPEC itu karena pelaku pasar lebih mencemaskan minimnya jumlah kilang untuk memproduksi minyak. Penutupan kilang secara tidak terjadwal telah memicu kenaikan harga minyak sejak tahun 2004. "Masalahnya adalah, OPEC tidak puny kapasitas kilang yang cukup untuk memproduksi minyak. Beberapa kilang yang sudah tua akan menjadi masalah besar," kata kepala komoditas Mitsui Bussan, Tetsu Emori seperti dikuti AP.
(qom/)











































