Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 08 Feb 2018 15:55 WIB

Sevel Hingga Clarks Tutup, Bagaimana Investasi Ritel di Tahun Ini?

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Toko ritel terus memilih untuk menggulung tikar. Mulai dari Seven Eleven hingga Clarks baru-baru ini. Lantas bagaimana kondisi investasi ritel tahun ini?

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong pada dasarnya aspek perekonomian di Indonesia termasuk ritel masih memiliki nilai yang positif. Namun hal tersebut harus diseimbangkan dengan perubahan tren.

"Secara makro, totalitas ekonomi net-net masih positif. Masih positif (ritel). Jadi memang sektor ritel ini harus menyesuaikan dengan perubahan teknologi dan tren yang sangat dahsyat dan cepat," katanya di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Ia memaparkan bahwa saat ini ritel harus melakukan perubahan sesuai dengan tren teknologi. Misalnya memasuki era digital seperti e-commerce.

"Jadi memang perlu rekonfigurasi dari sekadar toko-toko jadi seperti show room dan harus melengkapi tren-tren di e-commerce dan digital," imbuhnya.

Ia pun mengakui bahwa terdapat kesulitan bagi para ritel untuk beralih ke memasuki era teknologi. Pasalnya hal tersebut berkaitan dengan ada biaya investasi yang mesti dikeluarkanz

"Dan memang yang berat untuk pelaku yang sudah tradisional membawa beban yaitu infrastruktur dan sarana masa lalu. Jadi di saat sarana lalu tidak lagi bermanfaat tapi mereka harus nambah investasi lagi untuk meng-upgrade menyesuaikan mengkonfigurasi rantai pasok logistik," jelasnya.

Namun menurutnya hal tersebut seharunya tidak menjadi masalah. Sebab hal tersebut dapat membawa ritel kepada aspek yang lebih positif.

"Semuanya untuk tren-tren terkini memang berat tapi aspek negatif di sektor konvensional tetapi dia kan opset dengan aspek positif di sektor-sektor baru," pungkasnya.


Thomas pun menyarankan kepada pemilik mal untuk mengubah komposisi ritel di dalamnya fokus kepada sektor food and beverage (F&B).

Thomas mengatakan hal tersebut sesuai dengan apa yang telah disebutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di mana pola konsumsi akan ikut mengubah pola produksi.

"Jadi mal-mal harus merubah yang namanya dinamik komposisi dari pada gerai lebih ke F&B, restoran, kafe yang Pak Presiden sudah bilang ya pengalaman dan fitnes, bioskop, theater untuk live performance ya kan jadi memang pergeseran pola konsumsi akan menciptakan pergeseran di pola produksi dan pola ritel," tutupnya.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed