Follow detikFinance
Selasa, 20 Feb 2018 16:00 WIB

CT Bicara Soal Ancaman Pekerja Digantikan Robot

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Chairul Tanjung/Foto: Ardan Adhi Candra Chairul Tanjung/Foto: Ardan Adhi Candra
Jakarta - Perkembangan teknologi digital perlahan menggantikan peran manusia. Beberapa pekerjaan ke depan diperkirakan pun tak lagi membutuhkan tenaga manusia dan bisa digantikan mesin atau robot.

Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengatakan perkembangan teknologi tersebut bisa menghilangkan 5 juta pekerjaan hingga 2020 dan mengakibatkan pengangguran.

"Jutaan pekerjaan akan hilang. Hitungan pertama 2015 sampai 2020 karena proses disruption economic tidak kurang dari 5 juta pekerjaan nett akan hilang karena perubahan ini," kata pria yang akrab disapa CT dalam peluncuran buku ADB di Grand Hyatt Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018).

Perkembangan teknologi ini yang juga menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah agar jumlah pengangguran ke depan tak bertambah karena teknologi. "Ini PR yang luar biasa. Perkantoran dan administrasi paling besar karena diganti otomasi,"ujar CT.

Otomatisasi di beberapa pekerjaan dilakukan karena perkembangan teknologi semakin terjangkau dibandingkan dengan membayar upah karyawan yang setiap tahun mengalami kenaikan.

"10 tahun dari sekarang nanti sudah Rp 10 juta dan berkembang menjadi arah Rp 15 juta. Teknologi makin murah SDM makin mahal, apa nggak semua pabrik akan mengubah orangnya menjadi robot," tutur CT.

CT menambahkan, jika tidak diberi perhatian khusus, perkembangan teknologi ini akan memberikan dampak yang lebih besar lagi, khususnya bagi angkatan kerja.

"Makanya saya bilang di awal akan lebih banyak yang kalah dibandingkan yang menang. Akan terjadi konsentrasi ekonomi di tangan orang-orang tertentu yang menang," kata CT.

Kolonialisme Baru

CT juga menyampaikan terkait ancaman kolonialisme era baru. Aliran modal asing yang ramai masuk ke para startup dan perusahaan Indonesia lainnya. Masuknya modal asing menggerus kepemilikan saham lokal dalam sebuah perusahaan.

"Lihat Go-Jek siapa investornya, berapa persen punya orang Indonesia? Hampir nggak ada. Nah jadi ini akan, jadi nanti jangan sampai kolonialisme baru dalam ekonomi Indonesia. Harus jadi perhatian untuk kita semua dan nanti banyak perusahaan lokal hilang market share dan mati," kata CT.

Komoditas yang paling berharga saat ini tak lagi minyak bumi dan batu bara yang merupakan sumber daya alam (SDA). Seiring perkembangan teknologi, data menjadi harta yang paling bernilai saat ini.

Perusahaan rela membakar uang alias modal mereka. Data yang berhasil didapatkan kemudian digunakan untuk melakukan berbagai penawaran menarik yang tertuju langsung ke konsumen.

"Mereka untuk mengambil data ini burning the money. Makanya cuma ada satu pemain yang unggul karena winner takes all," ujar CT.

PR besar lainnya yang perlu diselesaikan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). CT menilai perlu dilakukan perubahan kurikulum di sekolah yang nantinya meliputi inovasi, kreativitas, dan kewirausahaan.

"Kalau bicara SDM, bicara sistem pendidikan perlu mengedepankan inovasi, creativity dan entrepreneurship. Change the curriculum dari TK sampai perguruan tinggi. Pastikan anak dibuat untuk ready to innovate, ready to innovative ready to entrepreneurship hasilnya 20 tahun yang akan datang," ujar CT. (ara/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed