Kelangkaan BBM Baru Teratasi Akhir Juli
Sabtu, 25 Jun 2005 12:50 WIB
Jakarta - Apes betul jadi orang Indonesia. Dikenal sebagai negeri kaya minyak, tapi mendapatkan seliter minyak, susahnya minta ampun gara-gara BBM jadi barang langka. Kelangkaan BBM ini baru teratasi akhir Juli nanti."Untuk recovery BBM, Pertamina membutuhkan waktu hingga dua pertiga bulan Juli," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ari Sumarno dalam acara Bincang Sabtu di Marios Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6/2005).Untuk saat ini, kata Ari, jatah BBM sebetulnya masih aman. Hingga 18 hari ke depan, Pertamina punya pasokan hingga 19 juta barel. Tapi fakta di lapangan menunjukkan lain. Beberapa daerah kesulitan mendapatkan kucuran. Banyak pom bensin terpaksa tutup. Pengguna minyak tanah juga banyak mengeluh.Lebih lanjut Ari menuturkan, pada Jumat (24/6/2005) malam Pertamina telah membongkar 1,2 juta barel solar dan 20 ribu barel premium. "Kami akan memasok 7 unit terminal BBM dan 6 terminal utama untuk menyuplai BBM di daerah-daerah sekitarnya," urai Ari.Pertamina juga akan mengapalkan BBM untuk memasok 7 unit terminal BBM dan 6 terminal utama yang bertugas menyuplai BBM di daerah-daerah sekitarnya.Anggota Komisi VII dan anggota Panitia Anggaran DPR Ramson Siagian pada diskusi yang sama meminta Depkeu meminimalisir keangkuhan sektoral. Karena selama ini salah satu penyebab kelangkaan BBM adalah tidak cepatnya Depkeu dalam memberikan dana kompensasi BBM ke Pertamina dengan alasan prosedural."Yang disubsidi itu BBM-nya, bukan Pertamina. Kita selalu mendesak Menkeu segera membayar subsidi BBM ke Pertamina, harus tepat waktu. Selama ini Depkeu sering telat karena alasan prosedur," keluhnya.Dirut Indef Fadhil Hasan berpendapat, untuk mengatasi kelangkaan BBM, pemerintah dan DPR serta Pertamina harus menyepakati penganggaran dana tetap dan dana stok tambahan.Dana tetap dianggarkan sesuai dengan jumlah kebutuhan BBM oleh rakyat. Dana tambahan untuk mengatasi gejolak harga minyak dunia, sehingga kelangkaan bisa diantisipasi.Bagaimana dengan pemanfaatan energi alternatif? "Diversifikasi akan efektif kalau instrumennya sudah dipenuhi. Selama ini instrumen ke arah sana belum tersedia dengan baik. Jadi penggunaan energi alternatif itu lebih tepat untuk program jangka panjang," pendapatnya.
(nrl/)











































