Contohnya seperti di Belitung Timur. Menurut salah satu nelayan asal Beltim, Mentak (50), potensi kerusakan ekosistem laut justru lebih banyak disebabkan oleh para nelayan sendiri.
"Penyebabnya dari alat yang digunakan nelayan saat menangkap ikan. Misalnya memecahkan karang dengan batu, menggunakan portas, atau pakai pukat harimau. Nah, yang paling parah adalah menangkap ikan dengan cara bagan," katanya saat dihubungi, Minggu (4/3/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mentak menjelaskan, dengan sistem bagan, dalam sekali menarik jaring, jutaan ikan-ikan kecil mati. Bayangkan jika banyak nelayan yang menggunakan bagan, berapa banyak spesies ikan kecil yang mati.
"Jika ikan kecil mati, nggak ada makanan untuk ikan besar. Hijrah lah ikan-ikan besar ke benua lain. Kalau ada yang bilang ekosistem laut dirusak kapal isap pertambangan, itu ngga benar. Operasi kapal isap pertambangan paling hanya beberapa meter dari garis pantai. Sedangkan bagan bisa menyebar ke beberapa bagian laut," katanya.
Karena itu, sebagai nelayan, Mentak berharap negara bisa hadir di sini untuk menyadarkan nelayan-nelayan 'nakal' yang hanya mementingkan kuantitas dengan mengabaikan keberlangsungan ekosistem. (dna/zlf)










































