Filosofi Matahari dan 5 Alasan Hari Darmawan Tekuni Bisnis Ritel

Sudrajat - detikFinance
Minggu, 11 Mar 2018 17:53 WIB
Foto: Tim Infografis: Mindra Purnomo
Jakarta - Di usia 18 tahun, Tan Tjan Hok alias Hari Darmawan hijrah dari Makassar ke Jakarta. Di ibu kota, lelaki kelahiran 27 Mei 1940 itu biasa turut bersama berbagai komponen masyarakat hadir di lapangan Ikada, menyimak pidato Bung Karno. Bila tidak ke lapangan, dia biasa menyimaknya dari radio.

"Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia," begitu salah satu pidato si Bung yang melekat dalam benak Hari Darmawan. "Akulah pemuda itu," ia membatin.

"Bung Karno adalah motivator terbesar yang dimiliki Indonesia," kata Hari Darmawan dalam buku Filosofi Bisnis Matahari yang ditulis Kristin Samah dan Sigit Triyono.


Kalimat-kalimat Bung Karno yang banyak menyerukan persatuan dan kesatuan, kelak ia jadikan landasan di perusahaan ritel yang ditekuninya. Merujuk Bung Karno, bagi Hari, kebersamaan dalam perusahaan merupakan kunci keberhasilan.

Bisnis ritel, menurut Hari, adalah bisnis peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berbeda dengan bisnis berbasis mesin yang cukup mempertimbangkan dari mana mesin berkualitas bisa diperoleh dan bisa meningkatkan produksi sehingga cepat mendatangkan keuntungan.

Sementara bisnis ritel harus dimulai dengan big thinking untuk menciptakan big company dan big people. Bidang perdagangan ritel harus bisa menjadikan karyawan yang mampu melayani, tekun, bertanggung jawab sosial, dan pada akhirnya berkontribusi pada nusa dan bangsa.

"Bagi Pak Hari, karyawan adalah modal, bukan beban," kata Kristin Samah kepada detikFinance, Minggu (11/3/2018).

Dalam buku "Filosofi Bisnis Matahari", Hari Darmawan menguraikan sejumlah alasan kenapa dia memilih berbisnis ritel. Ingin membuka lapangan kerja yang besar, menjadi alasannya pertama. Makin berkembang bisnis ritel, tenaga kerja yang dibutuhkan akan semakin banyak.

Foto: Tim Infografis: Mindra Purnomo


Bisnis ritel, menurut Hari, merupakan salah satu cara mendidik masyarakat Indonesia. Sebab faktor sumber daya manusia merupakan kunci dalam bisnis ini. Pengusaha ritel bukan menciptakan kuli, tapi membentuk manusia-manusia yang melayani, menjaga barang, mengurus keberlangsungan toko sebagai sumber kehidupan. "Bisnis ritel menjadi indikator tumbuhnya ekonomi suatu negara," kata Hari di buku itu.

Hari Darmawan berbisnis berlandaskan lima filosofi yang disusunnya, sehingga membuat dia berbeda dengan para pengusaha lainnya. Kelima filosofi itu dipasang di tempat-tempat yang mudah dilihat karyawan, baik di semua toko maupun di kantor pusat matahari. Filosofi Matahari menjadi semacam mantra untuk membangun semangat kerja setiap pagi, terutama bagi karyawan yang bekerja di toko Matahari.



Dengan lima filosofi sebagai nilai utama yang diyakini bersama, Matahari mampu mempraktikkan budaya kerja yang efektif, efisien, dan tetap bernuansa kekeluargaan, yang akhirnya membawa kesuksesan. Matahari mampu mengalahkan persaingan meskipun banyak merek ritel luar negeri seperti Yaohan, Sogo, Makro, JC Penny, Walmart, dan berbagai merek lainnya masuk ke Indonesia.

"Pak Hari Darmawan tidak hanya berbisnis tapi juga memperjuangkan idealisme. Ia pengusaha pejuang," kata Kristin Samah kepada detikFinance

(jat/zul)