Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 14 Mar 2018 18:34 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Cuma 5%, Jumlah Utang RI Tak Lagi Wajar

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi
Jakarta - Jumlah utang pemerintah Indonesia hingga akhir Januari 2018 telah mencapai kisaran Rp 3.958,7 triliun. Dengan capaian tersebut, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia kini telah menyentuh angka 29,2%.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan jumlah utang tersebut termasuk dalam kategori kontra produktif dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pasalnya dengan jumlah utang yang telah ditarik itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di kisaran 5%. Hal ini dianggap tak menunjukkan adanya produktifitas dari jumlah utang yang telah dihasilkan.

"Kalau dilihat dari segi keamanan utang kita, ini sudah kontra produktif. Di samping juga ukuran dari kesehatan fiskal pemerintah sendiri. Kalau modal ditambah utang kok malah keseimbangan primernya defisit (APBN) itu pasti sudah nggak sehat," katanya kepada detikFinance saat dihubungi, Rabu (14/3/2018).




Untuk itu, menurut Enny ukuran aman atau tidaknya utang Indonesia tak bisa dilihat hanya membandingkannya dengan PDB saja. Jumlah PDB Indonesia yang besar memang menjadi modal yang kuat bagi pemerintah untuk bisa terus menambah utang.

Namun PDB yang besar tersebut terhitung biasa saja jika dilihat dari jumlah populasi dan wilayah Indonesia yang besar dan luas. Tapi jika PDB yang besar namun tak diimplementasikan lewat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula, maka hal itu pun perlu menjadi lampu kuning.

"Seperti China, India, itu kan populasinya besar, tapi bedanya mereka punya pertumbuhan yang tinggi. Negara-negara yang populasinya besar itu tidak cukup kalau pertumbuhan ekonominya hanya 5%. China 6% lebih, India bahkan pernah 8%. Jadi negara yang populasinya besar itu minimal ekonominya tumbuh di atas 6%," kata Enny.


"Beda dengan negara-negara seperti Jepang, AS yang kalau tumbuh 3% itu sudah stabil. Jadi membandingkannya itu harus apple to apple, populasinya yang sizenya juga besar," tambahnya. (eds/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed