Perekonomian Negara Emerging Market Lebih Tahan Guncangan
Rabu, 29 Jun 2005 09:54 WIB
Jakarta -
Perekonomian negara-negara emerging market dinilai lebih tahan guncangan dibandingkan negara lainnya. Di tengah ketidakpastian global, negara emerging market justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi.Demikian catatan dari hasil pertemuan tahunan ke-75 Bank for International Settlement (BIS) yang diselenggarakan di Basel, Swiss, seperti disampaikan dalam situs resmi Bank Indonesia, Rabu (29/6/2005).Emerging market merupakan sebutan bagi negara berkembang yang perekonomiannya melejit.Dijelaskan, beberapa kondisi yang mengindikasikan kuatnya perekonomian negara emerging market terhadap guncangan adalah, pertama, semakin berkurangnya ketergantungan ekonomi terhadap permintaan eksternal. Kedua, membaiknya kebijakan fiskal pemerintah yang antara lain didukung oleh reformasi legislatif dan pengembangan pasar obligasi domestik. Ketiga, tercapainya tingkat inflasi yang lebih stabil dan rendah yang berarti meningkatnya kredibilitas kebijakan moneter. Keempat, meningkatnya surplus neraca transaksi (current account) negara-negara emerging market/I>. Kelima, adanya peningkatan kinerja perbankan. Tingginya pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market ini antara lain dipicu oleh kondisi permintaan dunia yang tinggi. Selain itu tingginya pertumbuhan juga dipicu meningkatnya outstanding kredit di berbagai negara akibat membaiknya fundamental ekonomi dan terjadinya rebound pada permintaan domestik di semua kawasan.BIS mencatat, pertumbuhan ekonomi dunia yang hampir mencapai 5 persen pada tahun 2004, merupakan angka yang terbaik dalam 3 dekade terakhir di tengah-tengah tingginya harga minyak dan beberapa komoditi lain. Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, selama tahun 2004, secara umum perekonomian dunia ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan lebih stabil dibarengi dengan laju inflasi yang lebih rendah dan lebih terkendali. "Khusus negara emerging market di Asia, Cina dan India masih menjadi motor bagi tingginya pertumbuhan ekonomi," kata Burhanuddin.Meski secara umum perekonomian masih akan tetap tumbuh tinggi disertai inflasi yang rendah pada tahun 2005, namun Presiden BIS Nout Wellink mencatat masih terdapat ketidakseimbangan distribusi pertumbuhan. Pada tahun 2004 pertumbuhan ekonomi didorong oleh Amerika Serikat dan emerging market. Sementara Jepang dan sebagian besar negara di zona Eropa masih mencatat pertumbuhan yang rendah.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































