Follow detikFinance
Kamis, 22 Mar 2018 10:28 WIB

Ketum PPP: Tak Ada Negara yang Tak Berutang

Mega Putra Ratya - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Fuad Hasim Foto: Tim Infografis, Fuad Hasim
Jakarta - Utang pemerintah per Februari 2018 tembus Rp 4.034,8 triliun. Utang tersebut dinilai wajar jika memang digunakan untuk kegiatan yang produktif.

"Tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak berutang. Selama untuk kegiatan yang produktif sebenarnya utang bukan hal yang dilarang," ujar Ketum PPP Romahurmuziy, Kamis (22/3/2018).

Pria yang akrab disapa Rommy ini menjelaskan didalam UU Keuangan Negara No.13 Tahun 2003 pun batasan antara utang Pemerintah yang aman sudah dipatok maksimal 60% terhadap PDB. Saat ini total utang Pemerintah per Februari berjumlah Rp4.034 triliun atau masih 29,2% terhadap PDB.

"Karena jauh di bawah batas maksimum utang seharusnya perdebatan soal utang tidak perlu dibuat gaduh," jelasnya.


Rommy mengatakan selama era Pemerintahan Jokowi-JK pun utang digunakan untuk pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dari kenaikan belanja infrastruktur dari Rp 290 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 410 triliun di 2018.

Dampak dari pembangunan infrastruktur yang masif ternyata berkorelasi positif dengan naiknya daya saing Indonesia. Berdasarkan Indeks Daya Saing Global yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, ranking daya saing Indonesia naik 5 peringkat dari 41 di tahun 2016 menjadi 36 di tahun 2017.

"Loncatan daya saing ini tak mungkin terjadi kalau bukan karena suntikan utang untuk bangun infrastruktur," tuturnya.

Menurut Rommy, ada kritik yang menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tak sejalan dengan naiknya utang. Utang luar negeri Pemerintah meningkat hingga 14% di tahun 2017, tapi ekonomi hanya tumbuh 5,07%. Kemudian perbandingannya adalah Negara seperti Malaysia, dan Vietnam yang masing-masing tumbuh 5,8% dan 6,8%.

"Ini merupakan perbandingan yang tidak apple-to-apple alias tak sama. Skala ekonomi Indonesia yang begitu besar seharusnya dibandingkan dengan Negara G20. Dibanding Negara G20, Indonesia ada peringkat no.3 pertumbuhan yang paling tinggi, di bawah China 6,9% dan India 6,7% tahun 2017. Kita patut bangga bisa tumbuh 5% meskipun belum optimal," paparnya.

Kemudian soal perbandingan utang antara Indonesia dan Jepang. Rasio utang Jepang memang 230% terhadap PDB, sementara Indonesia baru 29,2%. Artinya secara rasio utang Indonesia masih sangat aman.


Memang ada pertanyaan, lanjut Rommy, bagaimana resiko hutang LN pemerintah dlm valas? Sedangkan Jepang dan USA dalam mata uang domestiknya? Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 12/PMK.08/2013 Tentang Transaksi Lindung Nilai Dalam Pengelolaan Utang Pemerintah.

Ada juga Keputusan Menteri Keuangan Nomor 113/KMK.08/2014 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara Tahun 2014-2017 yang menyebutkan tentang penerapan kebijakan hedging sebagai salah satu strategi pengelolaan hutang pemerintah dalam bentuk valas.

"Jadi utang dalam SBN valas relatif lebih aman dibanding utang valas swasta," ungkapnya.

Rommy melanjutkan, bicara soal bunga surat utang Indonesia yang ada di angka 6,62%, jauh lebih tinggi dibanding Jepang yang hanya 0,03%, ini juga tak bisa disamakan. Bunga Indonesia mahal karena inflasi tinggi yakni 3,6% di 2017, sementara Jepang inflasinya sempat negatif (deflasi) atau di bawah 0%.


Perhitungan inflasi tentu menentukan return atau imbal hasil riil yang diterima investor, makin tinggi inflasinya makin tinggi permintaan bunga dari investor pembeli surat utang.

"Jadi kesimpulannya Pemerintah masih on the track menggunakan utang untuk pembangunan infrastruktur. Utang di era Presiden Jokowi pun dikelola secara profesional dan hati-hati. Tantangan kedepannya adalah menurunkan laju inflasi sehingga bunga utang makin murah. Langkah yang penting lainnya yakni meningkatkan fundamental ekonomi agar rating utang bisa melesat menjadi AAA dari saat ini BBB-. Jika rating utang semakin baik, dan dampak pembangunan infrastruktur ke depannya dirasakan oleh masyarakat luas, kegaduhan soal utang ini akan ditinggalkan,"pungkasnya. (ega/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed