Follow detikFinance
Jumat, 23 Mar 2018 11:58 WIB

Trump Patok Tarif Impor Produk China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: REUTERS/Leah Millis Foto: REUTERS/Leah Millis
Jakarta - Presiden Amerika (AS) Donald Trump meluncurkan 'serangan' terhadap China. Trump meminta departemen perdagangan AS untuk mengenakan tarif impor sebesar US$ 50-US$ 60 miliar untuk sejumlah produk China yang masuk ke Amerika.

Ini dilakukan setelah investigasi selama tujuh bulan terkait penyalahgunaan kekayaan intelektual yang menjadi titik awal memanasnya hubungan dagang AS dan China.

Selain pengenaan tarif impor, AS juga berencana untuk membatasi investasi dan mengambil tindakan untuk China di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization). Kemudian departemen keuangan AS juga sedang menyusun rencana tambahan terkait perang dagang ini.

"Pencurian kekayaan intelektual adalah masalah yang luar biasa," kata Trump dikutip dari CNN, Jumat (23/3/2018).


Langkah yang diambil Trump ini dilakukan setelah penetapan tarif impor sebesar 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium dari China.

Akibat memanasnya kondisi kedua negara, dikhawatirkan perang dagang ini akan mengguncang ekonomi global. Pada Kamis, Trump telah menandatangani sebuah kesepakatan tindakan dagang untuk AS yang berlandaskan pada pasal 301 dari Undang-undang (UU) Perdagangan 1974.

Sebelumnya, Trump sangat menyesalkan defisit ratusan miliar dolar AS antara AS dan China.

"Mereka (China) banyak membantu kami di Korea Utara. Namun kami memiliki defisit perdagangan yang besar dan terbesar dalam sejarah dunia," ujar Trump.

Perwakilan perdagangan AS Robert Lightizer menjelaskan pemberlakuan tarif impor untuk sejumlah produk adalah tindakan yang sangat penting untuk masa depan AS.

"Kami harus memberlakukan tarif yang sesuai, ini sangat penting untuk masa depan industri di negara ini," kata dia.

Penyelidikan menyimpulkan, China telah memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan kekayaan intelektual mereka melalui serangkaian kebijakan struktural oleh negara. Seperti persyaratan jika perusahaan asing harus bermitra dengan perusahaan China untuk mengakses pasar China.

Selain itu ada hasil penyelidikan yang menyebutkan jika China telah mencuri kekayaan intelektual dengan meretas jaringan komputer AS. Akibat pencurian tersebut AS mengaku dirugikan ratusan miliar dolar.

Perdana Menteri China Li Keqiang menjelaskan perang dagang ini tidak akan menghasilkan apapun.

"Perang dagang tidak ada gunanya untuk siapapun, tidak akan ada pemenang," kata Li dalam jumpa pers di Beijing. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed