Pertama, Rorian Pratyaksa, di usia 26 tahun ia sudah memiliki PayAccess yaitu sebuah startup pembayaran ponsel berlisensi. Platformnya memfasilitasi transaksi melalui smartphone untuk pembayaran online ke offline serta pembayaran digital dalam aplikasi.
Kedua, ada Marshall Utoyo dan Krishnan Menon. Dua pria muda ini membuat e-commerce khusus mebel, Fabelio di tahun 2015 dan menjalin kerja sama dengan 2.000 perajin di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad Ganis. Keduanya mendirikan Crowde pada tahun 2016 dengan tujuan menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh petani kecil di Indonesia dalam mendapatkan modal.
Platform investasi digital ini memberikan alternatif kepada petani untuk memperoleh pinjaman selain bank dan lintah darat.
Keempat, masih ada Stanislaus Mahesworo Christandito Tandelilin yang merupakan salah satu pendiri Salestock.com, aplikasi dan platform online yang menawarkan pakaian.
Kelima, Jeff Hendrata dan Andrew Tanner Setiawan juga masuk ke dalam Forbes 30 under 30 Asia. Mereka mendirikan Karta, sebuah perusahaan iklan khusus untuk sepeda motor. Keenam, ada Fransiska Hadiwidjana yang merupakan pendiri dan CEO Prelo, pasar e-commerce seluler berbasis di Indonesia yang berfokus pada penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Platform ini memungkinkan pengguna menjual barang bekas mereka atau menyewakannya.
Ketujuh Reynold Wijaya dan Iwan Kurniawan. Kedua pria ini merupakan otak di balik Modalku, sebuah platform pinjaman digital peer to peer yang menghubungkan usaha kecil dan menengah yang kekurangan uang dengan si pemberi pinjaman. Reynold Wijaya merupakan CEO Modalku dan Iwan Kurniawan merupakan COO Modalku. (ara/hns)











































