Harga Minyak Kembali US$ 60 Per Barel

Harga Minyak Kembali US$ 60 Per Barel

- detikFinance
Rabu, 06 Jul 2005 11:08 WIB
Jakarta - Harga minyak di pasar internasional kembali berada di level US$ 60 per barel. Padahal, sebelumnya harga minyak sempat berada di bawah US$ 60 per barel. Prediksi organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) pun tidak terbukti.OPEC sebelumnya menyatakan, harga minyak dunia tidak akan kembali ke level US$ 60 per barel atau tidak akan bertahan lama pada level tersebut. Prediksi OPEC didasarkan atas penambahan kuota yang telah dilakukan OPEC dan juga penambahan produksi oleh kartel negara produsen terbesar di OPEC.Pelaku ekonomi dan analis mengkhawatirkan kondisi ini. Harga minyak yang terus meningkat diprediksi akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dunia. Mereka khawatir kondisi ini akan membawa kepada masa keprihatinan ekonomi dan menghambat pertumbuhan sektor industri.Pelaku ekonomi di pasar minyak menyatakan, badai tropis yang melanda Teluk Meksiko dituding sebagai penyebab naiknya kembali harga minyak ke level US$ 60. Soalnya, badai tersebut akan mengurangi produksi minyak di kawasan itu. Tahun lalu, Badai Ivan menyebabkan produksi minyak di kawasan ini terhenti. Dikhawatirkan badai tropis di Teluk Meksiko ini akan mengulangi kejadian tahun lalu yakni terhentinya produksi minyak.Faktor lain yang menyebabkan harga minyak terus naik adalah aksi pembelian besar-besaran oleh para spekulan untuk cadangan minyak mereka. Para spekulan ini telah mendapatkan keuntungan yang banyak pada bulan Mei dan Juni. "Spekulasi ini yang menaikkan harga minyak," kata Carl Larry, analis Barclays Capital di New York seperti yang dikutip kantor berita AP, Rabu (6/7/2005).Minyak jenis light sweet crude untuk kontrak bulan Agustus diperdagangkan US$ 60,10 per barel. Sedangkan minyak untuk jenis London brent crude diperdagangkan US$ 58,30 per barel.Ekonom Nomura Securities David Resler memprediksi harga minyak tidak akan bertahan lama di posisi US$ 60 per barel. "Saya tidak percaya harga itu akan bertahan lama. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia akan menurunkan permintaan minyak dan tentunya harga akan turun kembali," kata David. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads