Follow detikFinance
Jumat, 27 Apr 2018 11:37 WIB

Bangun Pembangkit di Vietnam dan Bangladesh, PTPP Kirim 500 TKI

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: dok. PTPP Foto: dok. PTPP
Jakarta - PTPP (Persero) Tbk melebarkan pangsa pasarnya hingga ke luar negeri. Untuk tahun ini, PTPP sedang menjajaki proyek-proyek di dua negara, yakni Vietnam dan Bangladesh.

Di dua negara tersebut PTPP bakal mengerjakan proyek pembangkit listrik. Untuk di Vietnam Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan di Bangladesh Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Dalam menggarap proyek itu PT PP bakal membawa ratusan pekerja asal Indonesia.

"Ada dua yang sedang penjajakan di Vietnam dan Bangladesh. Itu proyek pembangkit listrik. (Kami akan) Membawa sekitar 200-500 pekerja di Indonesia," kata Direktur EPC dan Kerja Sama Luar Negeri PTPP Abdul Haris Tatang kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (27/4/2018).


Abdul mengatakan proyek tersebut memiliki nilai masing-masing sekitar Rp 1 triliun. Pengerjaan proyek tersebut diperkirakan mulai tahun ini, sehingga para pekerja Indonesia juga sudah bisa mengerjakannya.

"Itu proyeknya panjang, sekitar tiga tahun. Jadi selama tiga tahun di sana terus. Kalau mulainya mungkin tahun ini. Nilainya proyeknya masing-masing Rp 1 triliun," kata dia.

Abdul mengaku pihaknya memang kerap membawa pekerja Indonesia untuk menggarap proyek di luar negeri. Contohnya dalam pembangunan Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste beberapa tahun lalu.



"(Dulu juga mengerjakan) Gedung Departemen keuangan, sama jalan di Dili, Timor Leste. Ada tiga proyek itu sudah lama. Memang semua pekerja dari Indonesia. (Pekerjanya) sekitar itu 300-an lah, itu dua tahun," tuturnya.

Dia menjelaskan pihaknya memang menggunakan pekerja Indonesia dalam menggarap proyek di luar negeri. Ada sejumlah alasan mengapa PTPP lebih memilih pekerja Indonesia dibanding pekerja asing di sana.

"Alasan pertama kan kita familiar secara komunikasi," kata Abdul.

Menurutnya, dengan komunikasi yang mudah tersebut maka pengerjaan proyek juga bisa berjalan dengan lancar. Selain itu, alasan kedua ialah karena produktivitas pekerja Indonesia bakal lebih tinggi bila mengerjakan proyek-proyek di luar negeri.

"Orang kita kan kalau sudah keluar kan inginnya kerja, nggak ingin pulang-pulang, karena produktivitas tinggi," ujarnya.

Alasan yang terakhir, kata Abdul, kualitas dari pekerja-pekerja Indonesia masih lebih baik dibanding kualitas pekerja asal negara yang dituju.

"Kalau sama negara-negara tadi, orang-orang kita lebih ahli dibanding daerah-daerah itu," tuturnya. (fdl/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed