Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 10 Mei 2018 14:40 WIB

Ini Strategi BPJS Ketenagakerjaan Hadapi Gejolak Pasar Modal

Suci Rizqi Lestari - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - BPJS Ketenagakerjaan telah menyiapkan strategi diversifikasi portofolio, khususnya pada instrumen yang terkena dampak paling minimal atau mendapatkan gain. Strategi ini disiapkan menyusul turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 5,68% sejak awal tahun.

"Harapannya Bank Indonesia akan meningkatkan suku bunga acuan, yang akan berdampak positif pada Instrumen Pendapatan Tetap, yaitu surat utang dan deposito, sehingga akan memberikan yield yang lebih menarik. Dan sebagian besar dari portofolio kami, sebesar 71% ditempatkan pada surat utang dan deposito yang mempunyai dampak minimal terhadap gejolak IHSG," jelas Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan Amran Nasution dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/5/2018).

"Portofolio pendapatan tetap yang sebesar 71% tersebut merupakan core portfolio. Kami selalu menjaga agar tetap matching dengan kebutuhan likuiditas dan liabilitas dari setiap program yang dikelola," sambungnya.

Pengelola dana Jaminan Sosial Ketenagakerjaan sekaligus investor pasar modal terbesar di Indonesia tersebut juga berencana menjalankan strategi building (portofolio) pada saham-saham yang mengalami penurunan harga, namun memiliki fundamental yang bagus.

"Kami pasti mempertimbangkan pembelian saham dengan valuasi yang menarik, namun tetap menekankan pada kelayakan fundamental, potensi pertumbuhan jangka panjang dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan governance," sambungnya.

Pasar modal Indonesia di masa lalu juga pernah mengalami gejolak, namun kata Amran, BPJS Ketenagakerjaan mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Hal ini karena BPJS Ketenagakerjaan memiliki prospek jangka panjang yang baik.

"Di tengah melemahnya kondisi IHSG, kami masih dapat tumbuh sebesar 1,23% dari posisi awal tahun 2018. Tentu saja ini didukung oleh pencapaian iuran dan strategi investasi yang tepat," ujar Amran lagi.

Jika kondisi pasar modal tumbuh positif, Amran menyebut pihaknya memproyeksikan pertumbuhan dana kelolaan per Maret 2018 bisa mencapai Rp 327 triliun. Karena terjadi gejolak, BPJS Ketenagakerjaan kehilangan kesempatan untuk menambah dana kelolaan. Per 31 Maret 2018, dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan mencapai Rp 321,19 triliun. Angka itu tumbuh 1,23% dari posisi 31 Desember 2017.


Kendati demikian, terlepas dari strategi BPJS Ketenagakerjaan, Amran memprediksi dengan kondisi fundamental Indonesia yang masih positif, pasar modal tidak butuh waktu yang lama untuk kembali pulih.

"Kondisi market tidak dapat kita duga, tinggal bagaimana investor memanfaatkan momentum. Kami optimis kondisi ini akan membaik, IHSG akan kembali menguat karena kondisi fundamental Indonesia yang masih sangat baik. Marilah kita menjaga dan mendukung percepatan pemulihan pasar modal secara bersama-sama," tutup Amran. (mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed