Follow detikFinance
Kamis, 17 Mei 2018 11:44 WIB

Gurita Bisnis Samadikun, Koruptor yang Balikin Duit Rp 87 M

Danang Sugianto - detikFinance
Samadikun Hartono (baju polo bergaris). Foto: Rachman Haryanto Samadikun Hartono (baju polo bergaris). Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Terpidana kasus BLBI Samadikun Hartono hari ini akan mengembalikan sisa uang dikorupsinya sebesar Rp 87 miliar. Dari total dana talangan BLBI yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar, Samadikun baru mengembalikan Rp 81 miliar dan membayar uang pengganti Rp 1 miliar pada 20 Maret 2018 kepada Kejari Jakpus.

Penangkapan buronan koruptor kelas kakap ini cukup merepotkan. Aparat butuh waktu hingga 13 tahun sebelum akhirnya Samadikun tertangkap setelah menonton F1 di China pada 17 April 2016.

Jika dipikir, kabur selama 13 tahun dan harus mengembalikan uang sebesar itu, tentu dompet Samadikun cukup dalam. Lalu dari mana uang tersebut?

Menurut data Kejagung, Samadikun terakhir kali tinggal di apartemen Beverly Hills Singapura. Dia juga diketahui punya pabrik film di China dan Vietnam.

Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (17/5/2018), Samadikun sendiri sejatinya merupakan pengusaha yang merupakan salah satu founder atau pendiri Modern Group. Kerajaan bisnis tersebut pernah berjaya dan memiliki banyak perusahaan di berbagai sektor, mulai dari distributor Fujifilm, keuangan, properti hingga ritel kenamaan 7-Eleven yang telah gulung tikar.

Modern Group sendiri terbentuk berasal dari pendirian perusahaan yang bernama PT Modern Photo Film Company pada 12 Mei 1971. Perusahaan yang menjadi distributor utama seluruh produk Fujifilm di Indonesia itu didirikan oleh Otje Honoris yang merupakan ayah dari Samadikun.


Samadikun dengan 3 saudaranya Luntungan Honoris, Sungkono Honoris dan Siewie Honoris mulai meneruskan bisnis keluarganya pada 1982 setelah ayahnya meninggal dunia. Saat itu juga didirikan perusahaan bernama PT Inti Putra Modern sebagai induk usaha dan Samadikun yang menjadi pimpinannya.

Grup perusahaan pun berkembang, hingga akhirnya terhantam gelombang krisis ekonomi di 1997-98. Banyak perusahaannya terlilit utang, termasuk PT Bank Modern.

Sama seperti bank swasta kebanyakan, Bank Modern terbelit masalah ketatnya likuiditas. Saat itu terjadi rush money atau penarikan uang besar-besaran oleh nasabahnya.

Lantaran likuiditas yang ketat, Bank Indonesia (BI) memberikan bantuan likuiditas dalam bentuk SBPUK, Fasdis dan Dana Talangan Valas sebesar Rp. 2.557.694.000.000. Samadikun yang kala itu menjabat sebagai Presiden Komisaris menyelewengkan dana itu sebesar Rp 80.742.270.528,81 dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 169.472.986.461,52. Setelah diputuskan bersalah, Samadikun melarikan diri.

Sepeninggalan Samadikun, bisnis Modern Group pun semakin menurun. Bisnis distibutor Fujifilm tergerus perkembangan teknologi.


Cukup lama juga perseroan menjalankan bisnisnya itu. Hingga akhirnya pada 1 Mei 2015 mengadakan perjanjian pengalihan hak dagang dan penghentian perjanjian distribusi dengan FujiFilm Corporation.

Lalu sejak 18 Agustus 2015 perusahaan menjual dan mengalihkan hak dagang kepada perusahaan afiliasi Fuji Film Corporation yakni PT FujiFilm Indonesia (FFID).

Dalam kesepakatan itu FFI diharuskan untuk melakukan pembayaran kompensasi kerugian atas penyerahan barang terkait dengan bidang fotografi sebesar US$ 17 juta atau setara dengan Rp 229,8 miliar yang harus dibayarkan secara bertahap selama 4 kali.

Sejak saat itu, perseroan sepertinya lebih fokus mengembangkan bisnis Sevel, di mana perusahaan menandatangani Master Franchise Agreement dengan 7-Eleven, Inc sejak 3 Oktober 2008. Ada beberapa gerai Fuji Film yang berubah menjadi Sevel. Namun kini Modern Sevel juga telah menghentikan operasi seluruh gerai Sevel sejak 30 Juni 2017.





Mari kita lihat perbedaan borgol antara buronan bank Century Hartawan Aluwi dan buronan BLBI Samadikun Hartono:

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed