Follow detikFinance
Senin, 18 Jun 2018 13:00 WIB

Perang Dagang AS-China Kian Memanas, Ini Dampaknya ke RI

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China akan memberi dampak. Salah satunya adalah pada perekonomian Indonesia yang memiliki hubungan dagang dengan kedua negara itu.

Chief Economist Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memprediksi, Indonesia bisa menjadi negara penampung barang-barang kedua negara yang saling 'bertempur' itu.

"Kita harus hati-hati kalau kita bisa menjadi tumpahan pasar ex AS dan China, itu yang mengancam," kata Lana saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (18/6/2018).

Daftar barang AS yang bakal dikenakan tarif bea masuk tinggi oleh China mencakup kedelai, kendaraan listrik, berbagai kendaraan listrik hibrida, berbagai makanan laut, dan daging babi.

Menurut Lana, produk AS yang bakal dikenakan tarif bea masuk tinggi oleh China tidak menutup kemungkinan masuk ke Indonesia. Sebab, dari beberapa barang tersebut masih dibutuhkan oleh Indonesia.

"Ini bisa menjadi pasar alternatif yang tadi AS ke China," tambah dia.



Agar tidak hanya menjadi negara penampung produk-produk kedua negara tersebut, Lana bilang, Indonesia bisa memanfaatkan hal tersebut menjadi peluang yang lebih menguntungkan.

Salah satu yang bisa dimanfaatkan adalah dengan melakukan negosiasi ulang terhadap kedua negara tersebut.

"Nah itu yang mesti diantisipasi Indonesia, kita tahu kita akan kena, apa yang bisa kita minta, jadi kita juga bisa negosiasi," tutup dia.

Diketahui, China merespons cepat dengan mengumumkan rencana kebijakan pengenaan tarif dan bea cukai 25% untuk produk-produk AS. Ini bakal berlaku 6 Juli untuk produk pertanian, mobil, dan produk akuatik dari AS, senilai US$ 34 miliar atau setara Rp 476 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Daftar tersebut mencakup kacang kedelai, kendaraan listrik, berbagai kendaraan listrik hibrida, berbagai makanan laut dan daging babi.

Kementerian Perdagangan China mengumumkan keseluruhan proposal bea masuk produk AS akan mencakup 659 barang senilai US$ 50 miliar, termasuk minyak mentah, diesel, dan magnetic resonance imaging kit.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed